Dakwah : Istighfar Rasulullah SAW Untuk Ahli Baqi’

istighfar

Baqi’ adalah nama salah satu tempat pemakaman yang ada di kota Madinah Al-Munawwarah. Di tempat tersebut dimakamkan semua istri-istri Rasulullah saw kecuali Khadijah dan Mariyah. Para sahabat Nabi saw juga banyak yang dimakamkan di situ. Sebelumnya, pemakaman Bagi’ merupakan tempat memakamkan orang-orang Madinah terdahulu.

Rasulullah saw sering berziarah ke Makam Baqi’ untuk mendoakan dan meminta ampunan kepada ahli Baqi’. Diriwayatkan oleh Abu Muwaihibah bahwa Rasulullah saw keluar rumah, lalu beristigfar untuk ahli Baqi’. Ini terjadi pada bulan Muharram sekembalinya beliau dari haji Wada. Abu Muwaihibah menuturkan, “Pada tengah malam, Rasulullah saw memanggilku. “Wahai Abu Muwaihibah,” kata beliau, “sesungguhnya aku diperintahkankan untuk memintakan ampunan bagi ahli Baqi’. Untuk itu, ikutlah kamu bersamaku.”

Maka saya pun ikut bersama beliau menuju Baqi’. Ketika sampai di tengah-tengah ahli kubur, beliau berkata, “Assalamu’alaikum, wahai ahli kubur semua! Kalian sudah tidak lagi merasakan apa yang terjadi pada manusia sekarang. Jika saja kalian mengetahui peristiwa yang Allah selamatkan kalian dari bahayanya, fitnah-fitnah terus terjadi bagaikan malam hari yang gelap gulita, terus datang silih berganti. Masa-masa belakangan lebih buram daripada masa-masa sebelumnya.”

Kemudian beliau melirikku dan berkata, “Hai Abu Muwaihibah, sungguh aku diberi seluruh kunci dunia dan hidup kekal di dalamnya beserta surga. Lalu aku disuruh memilih antara itu semua dan kesempatan bertemu dengan Tuhanku beserta surga.”

Maka saya, kata Abu Muwaihibah, memberi pertimbangan, “Ayah dan ibu saya rela menjadi jaminan, ambillah kunci-kunci dunia dan hidup kekal di dalamnya beserta surga.” Rasulullah menjawab, “Wahai Abu Muwaihibah, aku telah memilih untuk bertemu dengan Tuhanku dan surga.” Setelah itu beliau beristigfar (memintakan ampunan) untuk ahli kubur di Baqi’.

Dalam riwayat lainnya dari Abu Muwaihibah, disebutkan, “Rasulullah saw diperintahkan untuk shalat (mendoakan) ahli Baqi’. Maka beliau pun mendoakan mereka tiga kali dalam semalam. Pada malam ketiganya, beliau berkata, “Wahai Abu Muwaihibah, pasangkanlah pelana kudaku. Tuntunlah sampai tiba di tengah para penghuni Baqi’.” Setibanya di sana, beliau turun. Sedangkan kudanya saya pegang. Beliau berdiri di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Kalian sudah tidak lagi merasakan apa yang terjadi pada manusia sekarang. Fitnah-fitnah datang seperti bagian-bagian di malam yang gelap gulita, bagian yang satu masuk pada bagian yang lain. Masa depan lebih buruk dari masa silam. Maka beruntunglah kalian tidak mengetahuinya.”

Kemudian beliau pulang dan berkata, “Wahai Abu Muwaihibah, aku telah dikaruniai atau telah diberikan opsi untuk memilih kemenangan dari Allah untuk umatku (berupa kekuasaan di dunia) setelah aku wafat dan surga, atau memilih bertemu dengan Tuhanku.” Maka saya, kata Abu Muwaihibah, menjawab, “Wahai Rasulullah, pilih saja salah satunya.” Kemudian beliau berkata, “Aku lebih memilih untuk bertemu dengan Tuhanku.”

Tidak lama setelah itu, selang tujuh atau delapan hari kemudian, Rasulullah saw wafat.”

Dipublikasi di Artikel Dakwah, Kepribadian Rasulullah | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Artikel Dakwah: Kesabaran Rasulullah saw

kesabaran rasulullah

Rasulullah saw adalah seorang yang memiliki kesabaran luar biasa dan patut dicontoh oleh umatnya. Beliau tidak pernah marah apabila pribadinya dihina atau dipermalukan, beliau hanya akan marah apabila syariat yang ditetapkan Allah dilanggar. Kesabaran Rasulullah saw dapat dilihat ketika suatu hari penduduk Makkah meminta beliau agar merubah bukit Shafa menjadi emas dan memindahkan gunung itu dari tempatnya semula. Tiba-tiba ada suara yang berkata kepadanya, “Engkau boleh memilih, apakah engkau mau dipermalukan karena Aku (Allah) tidak mengabulkan permintaan mereka, atau Aku akan memberikan apa yang mereka minta, jika (setelah dikabulkan) mereka tetap dalam keadaan kafir, maka Aku akan menghancurkan mereka seperti halnya umat-umat sebelum mereka?” Nabi menjawab, “Tidak, lebih baik aku dipermalukan mereka.” (HR. Ahmad)

Rasulullah saw juga bersabar dalam berdakwah kepada kaumnya. Tidak sedikit orang-orang yang mengejek, menghina, mencaci maki, bahkan melempari beliau dengan batu tatkala beliau berdakwa kepada mereka. Lika-liku dakwah beliau lalui dengan tetap menunjukkan kesabaran. Hal ini patut menjadi contoh bagi kita semua. Diriwayatkan suatu ketika Thufail bin Amr Ad-Dausi menemui Rasulullah SAW. Suatu ketika Thufail melapor kepada beliau, “Kaum Daus telah durhaka dan membangkang. Mohon kiranya engkau berdoa kepada Allah untuk mereka,”. Rasulullah SAW pun menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Mereka tentu celaka!” sahut orang-orang yang hadir. Kemudian Beliau berdoa, “Ya Allah, berikanlah petunjuk untuk kaum Daus dan turunkanlah rahmat-Mu kepada mereka!” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, dan Ibnu Sa’d) Beliau tidak mendoakan buruk kepada orang-orang jahil yang memang tidak mengetahui, bahkan beliau mendoakan supaya mereka diberi rahmat oleh Allah Ta’ala. Inilah teladan yang patut dicontoh oleh kita semua. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel Dakwah, Kepribadian Rasulullah, Sirah Nabawiyah | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Dakwah : Bahaya Riba

 

Rasulullah saw melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau berkata, “Mereka semua adalah sama.”(HR. Muslim)

Hadits ini merupakan hadits yang disepakati kesahihannya oleh para ulama hadits. Hadits tersebut menggambarkan mengenai bahaya dan buruknya riba bagi kehidupan kaum muslimin. Pelaknatan Rasulullah SAW terhadap para pelaku riba menggabarkan betapa munkarnya amaliyah ribawiyah, mengingat Rasulullah SAW tidak pernah melaknat suatu keburukan, melainkan keburukan tersebut membawa kemadharatan yang sangat besar. Oleh karenanya, setiap muslim wajib menghindarkan diri dari praktek riba dalam segenap aspek kehidupannya.

Makna Riba

Dari segi bahasa, riba berarti tambahan atau kelebihan. Sedangkan dari segi istilah para ulama beragam dalam mendefinisikan riba.Definsi riba adalah; segala tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.

Intinya adalah, bahwa riba merupakan segala bentuk tambahan atau kelebihan yang diperoleh atau didapatkan melalui transaksi yang tidak dibenarkan secara syariah. Bisa melalui “bunga” dalam hutang piutang, tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama, dan sebagainya. Dan riba dapat tejadi dalam semua jenis muamalah.

Riba Merupakan Dosa Besar

Semua ulama sepakat, bahwa riba merupakan dosa besar yang wajib dihindari. Seorang ulama mengatakan, bahwa tidak pernah Allah SWT mengharamkan sesuatu sedahsyat Allah SWT mengharamkan riba. Seorang muslim yang lurus akan merasakan jantungnya seolah akan copot manakala membaca kalam Ilahi mengenai pengharaman riba (dalam QS. 2 : 275 – 281). Hal ini karena begitu buruknya riba dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Hal itu karena mereka mengatakan, bahwasanya jual beli itu adalah seperti riba. Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba. Maka barangsiapa yang telah datang padanya peringatan dari Allah SWT kemudian ia berhenti dari memakan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya terserah keapda Allah. Namun barang siapa yang kembali memakan riba, maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan !’ Para sahabat bertanya, ‘Apa saja tujuh perkara tersebut wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT kecuali dengan jalan yang benar, memakan riba, mamakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan dan menuduh berzina pada wanita-wanita mu’min yang sopan yang lalai dari perbuatan jahat.”(Muttafaq Alaih).

Buruknya Muamalah Ribawiyah

Terlalu banyak sesungguhnya dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits, yang menggambarkan tentang buruknya riba, berikut adalah ringkasan dari beberapa dalil mengenai riba :

  1. Orang yang memakan riba, diibaratkan seperti orang yang tidak bisa berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan, lantaran (penyakit gila). (QS. 2 : 275).
  2. Pemakan riba, akan kekal berada di dalam neraka. (QS. 2 : 275).
  3. Orang yang “keukeuh” dalam bermuamalah dengan riba, akan diperangi oleh Allah dan rasul-Nya. (QS. 2 : 278 – 279).
  4. Seluruh pemain riba; kreditur, debitur, pencatat, saksi, notaris dan semua yang terlibat, akan mendapatkan laknat dari Allah dan rasul-Nya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya.” Kemudian beliau berkata, “ Mereka semua sama!”. (HR. Muslim)
  5. Dosa memakan riba (dan ia tahu bahwa riba itu dosa) adalah lebih berat daripada tiga puluh enam kali perzinaan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Handzalah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dan ia mengetahuinya, maka hal itu lebih berat daripada tiga puluh enam kali perzinaan.” (HR. Ahmad, Daruqutni dan Thabrani).
  6. Bahwa tingkatan riba yang paling kecil adalah seperti seoarng lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Dengan dalil-dalil tersebut, masihkah ada seorang muslim yang tetap bermuamalah dengan riba dalam kehidupannya?

Praktek ribawi dapat terjadi pada seluruh transaksi keuangan di zaman sekarang ini, diantaranya adalah:

  1. Transaksi Perbankan.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa basis yang digunakan dalam praktek perbankan (konvensional) adalah menggunakan basis bunga. Dimana salah satu pihak (nasabah), bertindak sebagai peminjam dan pihak yang lainnya (bank) bertindak sebagai pemberi pinjaman. Atas dasar pinjaman tersebut, nasabah dikenakan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang tersebut, dengan tidak memperdulikan, apakah usaha nasabah mengalami keuntungan ataupun tidak.

Praktek seperti ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek riba jahiliyah pada masa jahiliyah. Hanya bedanya, pada riba jahiliyah bunga baru akan dikenakan ketika si peminjam tidak bisa melunasi hutang pada waktu yang telah ditentukan, sebagai kompensasi penambahan waktu pembayaran. Sedangkan pada praktek perbankan, bunga telah ditetapkan sejak pertama kali kesepakatan dibuat, atau sejak si peminjam menerima dana yang dipinjamnya. Oleh karena itulah tidak heran, jika banyak ulama yang mengatakan bahwa praktek riba yang terjadi pada sektor perbankan saat ini, lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba jahiliyah.

Selain terjadi pada aspek pembiyaan sebagaimana di atas, riba juga terjadi pada aspek tabungan. Dimana nasabah mendapatkan bunga yang pasti dari bank, sebagai kompensasi uang yang disimpannya dalam bank, baik bank mengalami keuntungan maupun kerugian.

  1. Transaksi Asuransi.

Dalam sektor asuransi pun juga tidak luput dari bahaya riba. Karena dalam asuransi (konvensional) terjadi tukar menukar uang dengan jumlah yang tidak sama dan dalam waktu yang juga tidak sama. Sebagai contoh, seseorang yang mengasuransikan mobilnya dengan premi satu juta rupiah pertahun. Pada tahun ketiga, ia kehilangan mobilnya seharga 100 juta rupiah. Dan oleh karenanya pihak asuransi memberikan ganti rugi sebesar harga mobilnya yang telah hilang, yaitu 100 juta rupiah. Padahal jika diakumulasikan, ia baru membayar premi sebesar 3 juta rupiah. Jadi dari mana 97 juta rupiah yang telah diterimanya? Jumlah 97 juta rupiah yang ia terima masuk dalam kategori riba fadhl (yaitu tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama).

Pada saat bersamaan, praktek asuransi juga masuk pada kategori riba nasi’ah (kelebihan yang dikenakan atas pertangguhan waktu), karena uang klaim yang didapatkan tidak yadan biyadin dengan premi yang dibayarkan. Antara keduanya ada tenggang waktu, dan oleh karenanya terjadilah riba nasi’ah. Hampir semua ulama sepekat, mengenai haramnya asuransi (konvensional) ini.

  1. Transaksi Jual Beli Secara Kredit.

Jual beli kredit yang tidak diperbolehkan adalah yang mengacu pada “bunga” yang disertakan dalam jual beli tersebut. Apalagi jika bunga tersebut berfluktuatif, naik dan turun sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Sehingga harga jual dan harga belinya menjadi tidak jelas (gharar fi tsaman). Sementara sebenarnya dalam syariah Islam, dalam jual beli harus ada “kepastian” harga, antara penjual dan pembeli, serta tidak boleh adanya perubahan yang tidak pasti, baik pada harga maupun pada barang yang diperjual belikan. Selain itu, jika terjadi “kemacetan” pembayaran di tengah jalan, barang tersebut akan diambil kembali oleh penjual atau oleh daeler dalam jual beli kendaraan. Pembayaran yang telah dilakukan dianggap sebagai “sewa” terhadap barang tersebut.

Belum lagi komposisi pembayaran cicilah yang dibayarkan, sering kali di sana tidak jelas, berapa harga pokoknya dan berapa juga bunganya. Seringkali pembayaran cicilan pada tahun-tahun awal, bunga lebih besar dibandingkan dengan pokok hutang yang harus dibayarkan. Akhirnya pembeli kerap merasa dirugikan di tengah jalan. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem jual beli kredit secara syariah. Dimana komposisi cicilan adalah flat antara pokok dan marginnya, harga tidak mengalami perubahan sebagaimana perubahan bunga, dan kepemilikan barang yang jelas, jika terjadi kemacetan. Dan sistem seperti ini, akan menguntungkan baik untuk penjual maupun pembeli.

Masih banyak sesungguhnya transaksi-transaksi yang mengandung unsur ribawi di tengah-tengah kehidupan kita. Intinya adalah kita harus waspada dan menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari muamalah seperti ini. Cukuplah nasehat dari Allah SWT kepada kita “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. Annisa’ : 29)

Dipublikasi di Dakwah, Opini | Tag , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PERAN GURU MENYIAPKAN GENERASI EMAS DI MASA DEPAN

Peran guru sangat urgen, terutama menyiapkan masa depan generasi emas bangsa ini. Saksikan videonya dalam Rohani Islam di Batik TV yang disampaikan Ustadz Yasir Maqosid, bersama dengan Mahasiswa STAIN Pekalongan Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Dipublikasi di Dakwah, ROHIS BATIK TV | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Video: Supaya Mudah Menerima Pelajaran

Berikut ini video tanya jawab program Rohani Islam di Batik TV tentang sarana supaya mudah menerima pelajaran:

Dipublikasi di ROHIS BATIK TV, Video | Tag , , | Tinggalkan komentar

Adab-Adab Berdoa

Adab Berdoa

Doa adalah senjata kaum muslimin dan ibadah yang agung. Allah Swt berfirman, “Dan berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan permintaanmu.Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku maka akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(Al-Mu’min : 60)

Rasulullah Saw mengajarkan kepada umatnya bagaiman adab berdoa dan para ulama sebagi pewaris Nabi menjelaskan tentang adab dan etika dalam berdoa agar dikabulkan, yaitu sebagai berikut:

  • Menjaga Kehalalan Makanan, Minuman, dan Pakaian.

Sebelum kita berdoa hendaknya kita memperbaiki keadaan kita yaitu menjauhi makanan dan minuman yang haram. Rasulullah saw. bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” (HR. Muslim) Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Adab-Adab, Dakwah | Tag , , | Tinggalkan komentar

Adab-Adab Masjid

Adab Masjid

Memakmurkan masjid merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Amalan ini sangat mulia dan penting, apalagi di zaman sekarang dimana masjid-masjid mulai sepi dari para jamaah yang shalat lima waktu. Padahal Rasulullah Saw telah mencontohkan bahwa pertama kali yang beliau lakukan dalam membangun masyarakat madani adalah dengan membangun masjid dan meramaikannya. Masjid pada zaman Rasulullah Saw sangatlah sederhana bangunan fisiknya, namun aktifitasnya tidak pernah berhenti 24 jam.

Dari masjid itulah, beliau memberikan bimbingan, petunjuk, mengajarkan agama, maupun menyusun strategi untuk menguatkan umat Islam. Hal ini tentunya perlu menjadi bahan renungan kita bersama. Masjid pada zaman Rasulullah Saw ibarat pabrik yang memproduksi hidayah dan petunjuk sehingga bisa menyebar ke seluruh alam. Sedangkan saat ini, kita melihat banyaknya orang yang tidak lagi peduli agama dan maraknya kemungkaran karena ternyata masjid-masjid ini sudah sepi dari jamaah. Oleh karena itu, untuk mencapai kejayaan Islam maka tidak ada jalan lain kecuali dengan memakmurkan masjid melalui amal agama dalam masjid, sehingga dengan makmurnya masjid maka masyarakat sekitar akan makmur pula dengan cahaya agama.

Supaya kita mendapatkan kesempurnaan iman ketika berada di masjid, hendaknya kita meneladani Rasulullah Saw yang telah memberi kita petunjuk berupa adab-adab masjid sebagai berikut:

  • Berpakaian Indah

Sangat dianjurkan untuk berpakaian paling indah ketika menuju ke masjid. Akan lebih baik lagi jika memakai pakaian putih, karena Rasululah Saw sering berpakaian putih. Tentang berpaiakan indah, Allah Swt berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. (QS. AI-A’raf: 31). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Adab-Adab, Dakwah | Tag , , | Tinggalkan komentar