Ayat-ayat Cinta; Poligami yang Dipuji dan Dicaci

Film ayat-ayat cinta sungguh fenomenal, terutama bagi bangkitnya perfilaman dengan napas Islami. Setelah film ini booming, para pekarya perfileman mulai melek dan berusaha untuk membuat film dengan latar Islami. Tercatat ada Chaerul Umam yang akan menyutradarai film yang diangkat dari Novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya dari penulis Novel “Ayat-ayat Cinta” Kang Abik. Juga ada Hanung yang kabarnya akan menyutradai kisah perjalanan pendiri Ormas Muhammadiyah, Kyai Ahmad Dahlan.

Namun, sebenarnya ada misi “istimewa” selain dari sekadar tontonan yang menyentuh hati. Di situ ada cerita poligami Fahri yang tidak diributkan oleh para penonton, bahkan para ibu-ibu yang pernah “menghujat” Aa Gym sekalipun. Tidak terdengar nada minor dari ibu-ibu seusai menyaksikan drama poligami Fahri yang “terpaksa” harus memadu Aisyah dengan Maria. Kenapa sepertinya kaum hawa tidak mempermasalahkan Poligami Ala Fahri, sementara—terkadang—membabi buta menghantam Poligami Aa Gym? Apakah karena Fahri adalah Tokoh Fiksi, sementara Aa Gym adalah Tokoh Religi yang ada dalam kehidupan nyata? Terlepas dari fiksi atau non realiti rasanya Poligami Fahri terasa lebih manusiawi dan dapat diterima dengan nurani daripada Poligami saat Aa saat menyunting Teh Rini.

Pertama, Poligami Fahri dilakukan atas permintaan istri pertama dan tanpa ditutup-tutupi, sementara Poligami Aa baru dipublikasikan setelah tiga bulan usia pernikahannya (meskipun menurutnya istri pertama sudah tahu) dan ada usaha untuk menutupinya dari sorotan media.

Kedua, Poligami Fahri karena niat suci untuk menolong menyelamatkan nyawa seorang gadis yang tergila-gila kepadanya, sementara Poligami Aa terkesan untuk “menolong” dirinya sendiri dari perbuatan zina.

Ketiga, Setelah berpoligami Fahri justru takut dirinya tidak bisa berbuat adil terhadap kedua istrinya, bahkan dia sempat curhat kepada temannya. Padahal, Fahri adalah seorang Mahasiswa Al-Azhar yang sudah menyelami samudra ilmu agama yang sangat dalam. Sedangkan setelah berpoligami Aa Gym yang mengcounter para pendemonya menyatakan bahwa mereka yang meributkan poligaminya adalah orang yang kurang ilmu, seakan-akan Aa menyatakan bahwa dirinya sudah “pasti bisa adil” karena sudah punya ilmunya.

Terlepas dari itu semua, yang patut diacungkan jempol adalah film ini menyajikan poligami yang sebenarnya masih kontroversi dengan kondisi yang manusiawi, sehingga dapat diterima oleh orang yang anti poligami sekalipun. Inilah dakwah bil hikmah (dengan cara yang bijak) sehingga mampu memasukkan inti tanpa menimbulkan riak-riak yang berarti.

Adik kelas Kang Abik
di Universitas Al-Azhar

1 comment April 4, 2008

Keajaiban Air Zam-zam

Padang Arafah bagi mayoritas jamaah haji memberikan kesan yang luar biasa. Hal itu pun dirasakan Mawardi Bahrain, pembimbing jamaah haji PT Cordova Abila Travel. Lelaki yang selama 12 tahun lebih bermukim di Makkah dan sepanjang itu pula membimbing jamaah haji dan umrah asal Indonesia maupun jamaah negara lain itu mengakui, Padang Arafah memberikan pengalaman mengesankan. Bahkan, pada penyelenggaraan haji tahun 1425 H, ia merasakan wukuf di Padang Arafah ketika itu, laksana wukuf terakhir baginya. ”Saat wukuf di Padang Arafah, kesan yang saya tangkap, justru kepasrahan totalitas kepada kehendak Allah SWT.
Sangat sulit digambarkan dengan kata-kata,” jelas pria asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Saat khutbah wukuf disampaikan, lanjut suami Rabiyatul Adawiyah ini, kepasrahan itu makin memuncak. Demikian pula saat doa wukuf dikumandangkan baik secara bersama-sama maupun berdoa sendiri. ”Saya pasrah apapun kehendak Allah. Kalau saat itu, Allah menghendaki saya harus kembali (dipanggil ke hadirat-Nya), saya pun rela,” ungkap Mawardi.
Ia mengungkapkan, Padang Arafah yang merupakan gambaran Padang Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia di hari kiamat kelak, {red}), dirasakannya sebagai bentuk kedekatan seorang hamba kepada Sang Khaliq (Maha Pencipta). Begitu dekatnya hubungan itu, sampai-sampai ia mengidamkan bisa meninggalkan dunia ini saat itu. ”Begitu pasrahnya terhadap kehendak Allah, saya merasa hari itu adalah hari terakhir hidup saya. Sehingga, kalau nyawa saya dicabut pun saat itu, saya rela. Dan itu pula yang saya idam-idamkan,” tuturnya.
Karena itu pula, menjelang wukuf pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1425 H, ia pun sempat berpamitan kepada orang tua dan sanak keluarganya. Dan ketika ia menyampaikan hal itu kepada keluarganya termasuk isterinya, semuanya bertanya-tanya. Gerangan apakah yang dialami Mawardi? ”Saya sampaikan, agar keluarga tabah dan sabar, kalau saya hari itu dipanggil Allah. Karena saya merasa itu hari terakhir saya,” ujarnya.
Namun, rupanya Allah masih memberinya umur. Hingga saat ini ia masih mendapat kesempatan untuk membimbing jamaah haji dan umrah dari PT Cordova Abila Travel. Pengalaman lainnya yang dirasakan Mawardi selama menunaikan ibadah haji maupun selama mukim di Makkah, adalah keagungan Allah berupa air zam-zam. Jika merasakan sesuatu yang ‘ganjil’ atau menghadapi masalah, ia selalu meminum air zam-zam. Demikian pula apabila sahabat, keluarga atau pun orang lain menghadapi masalah, ia selalu menganjurkan untuk meminum air zam-zam. Dengan itu, ia berharap Allah memberikan pertolongan.
Kebesaran dan keagungan yang Allah berikan pada air zam-zam, itu pula yang ia rasakan ketika pertama kali tinggal di Makkah. Di asrama, ia sering mengalami sakit. ”Saat masih menjadi pelajar di Ponpes Showlatiyah — milik Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki– saya sempat merasakan kesulitan buang air kecil. Saya disarankan oleh sepupu saya agar meminum air zam-zam, dengan berbagai etika, tata cara yang sopan dan doa serta menghadap kiblat. Beberapa saat setelah meminum air zam-zam, saya pun ingin ke belakang. Dan tanpa disangka, ternyata saya kencing batu. Setelah itu, perasaan saya pun menjadi tenang dan tidak merasakannya lagi,” papar pria kelahiran Mataram, 15 September 1971 ini.
Demikian pula ketika hendak menghafal Alquran, kata Mawardi, ia juga selalu meminum air zam-zam. Atas kehendak Allah, ia pun dengan lancar bisa menghafal dalam waktu yang relatif singkat. ”Alhamdulillah, saya lancar menghafalnya,” jelas Mawardi. Kebesaran dan keagungan Allah pada air zam-zam, kembali dirasakannya ketika isterinya mengalami keguguran. Karena di dalam rahim isterinya masih menyisakan sesuatu setelah keguguran, kata Mawardi, dokter setempat menyarankan agar di-kiret. Setelah bertanya ke sana-ke mari, efek dari kiret tersebut, ia pun pasrah.
”Saya minta dokter yang melakukan kiret harus dokter wanita. Dan sehari menjelang kiret dilakukan, saya minta isteri agar minum air zam-zam. Alhamdulillah, ketika saya bawa ke dokter dan siap di-kiret, ternyata kata dokternya semuanya sudah beres dan tidak perlu dilakukan kiret lagi,” jelas ayah satu anak, Muhammad Al-Fateh (1,5 tahun) ini.
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=242446&kat_id=354

Add comment Desember 19, 2007

Perempuan Pertama yang Membunuh Yahudi (Shafiyah Binti Abdul Muthallib)

Dalam perang Khandaq, kaum kafir Quraisy berkumpul dan bergabung dengan para koalisinya dari suku-suku bangsa Arab. Sedangkan Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menggali parit sekitar kota Madinah sebagaimana yang di usulkan Salman Al-Farisi. Allah telah mengirimkan angin topan dan badai yang ganas yang memporak-porandakan perkemahan dan melemahkan kekuatan bertempur musuh-musuh Islam sehingga mereka lari tunggang langgang dan tercerai berai kembali ke negara asalnya.
Rasulullah selalu menempatkan kaum perempuan dalam Athamm, yaitu sebuah benteng yang bangunannya berasal dari bebatuan yang kokoh. Entah dari mana, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang berusaha menyadap pembicaraan dan mengungkap rahasia kaum muslimin dengan mengendap-endap di pinggir tembok. Sayyidah Shafiyyah berkata, “Kemudian aku mengambil sebuah batang kayu lalu turun untuk menyergapnya hingga aku membuka pintu sedikit demi sedikit. Aku pun mengangkat kayu tersebut dan memukulkan padanya, sehingga aku berhasil membunuhnya.”

Add comment Desember 17, 2007

Hasil Survey Pemahaman Keagamaan Masyarakat (oleh Depag)

Hari sabtu kemarin, aku mendapat tugas dari perusahaan untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Litbang Depag (Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama). Seminar tentang hasil survey literatur keagamaan dan pemahaman keagamaan masyarakat tersebut diselenggarakan di hotel Alia Cikini. Jakarta.
Sebenarnya malas ikut seminar, apalagi waktunya yang semestinya bisa aku buat untuk istirahat (sabtu hanya masuk setengah hari saja), tetapi karena sudah tugas dan kepengin tahu seminar tentang apa akhirnya aku dan seorang kawan ikut berangkat ke seminar itu.
Ternyata, materinya adalah pemaparan dari Litbang Depag atas hasil survey yang mereka lakukan (filenya dapat dilihat di attachment). Survey seperti ini sebenarnya masih banyak celahnya dan pertanyaan yang diajukan oleh surveyor masih sangat rancu. Antara lain ada pertanyaan tentang buku apa yang pernah dibaca oleh responden. Hasilnya, yang terbanyak ketiga adalah Usamah bin Laden. Padahal Usamah sama sekali belum pernah menerbitkan buku, lalu dari mana para responden membaca buku karya Usamah? Dari Hongkong? J Juga ada survey yang menyatakan bahwa pengarang terfavorit di Aceh dan Sumatra adalah Nur Kholis Majid yang mengungguli Aa Gym, Qurais Syihab, bahkan Hamka. Kenapa kok tidak ada nama Faudzil Adzim, Helvi Tiana, Habiburrahman Syairozi, atau Saifuddin Zuhri, dll? Dalam hati, saya merasa ada yang tidak beres, apalagi yang mengepalai survey adalah orang-orang dari Paramadina. Wah kayaknya ada titipan nih.
Namun bagaimana pun juga saya perlu memberi apresiasi kepada mereka tentang pekerjaan yang telah mereka lakukan (meskipun biasanya kayak begini adalah proyek yang ujung2nya uang). Selain itu saya juga berterima kasih karena panitia menyelenggarakan acara ini di hotel sekaligus menyediakan makanan enak apalagi pulangnya dikasih amplop (Sssst ini rahasia lho)

1 comment Desember 11, 2007

Perjalanan Mengais Rejeki di Jakarta (1)

Sebelumnya sama sekali tidak terbayang bahwa akan mengais rejeki di Jakarta. Ketika masih di Mesir (sebelum lulus), idealisme masih tinggi dan cita-cita tergantung setinggi langit. Ya, aku pulang harus berdakwah, mengajar, dan menularkan ilmu yang aku peroleh selama ini kepada masyarakat. Masalah rejeki, itu urusan belakangan, bukankah Allah Maha Pemberi Rejeki? Bukankah aku ke Mesir untuk tafaqquh fiddin (belajar agama) yang tujuannya adalah liyundziru qaumahum idza raja’u ilaihim (memberi peringatan kepada kaumnya setelah pulang)?
Namun ternyata keinginan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Setelah tiba di Pekalongan, karena orangtua berada di Jakarta membuka kios batik, maka aku ikut pula ke Jakarta. Ternyata beberapa hari di sana ada tawaran untuk bekerja di penerbit yang biasa memberikan order terjemahan sewaktu aku masih di Mesir. Akhirnya aku menetapkan untuk bekerja dan tidak kembali ke Pekalongan, mengingat kondisi ekonomi yang belum stabil.
Kantor pertama tempat aku bekerja sebagai karyawan bernama Maghfirah Pustaka yang bergerak di bidang penerbitan buku. Waktu itu, kantorku sedang punya proyek membuat Al-Qur`an tajwid delapan warna, dan aku ditawari untuk menjadi korektor. Alhamdulillah, baru pulang beberapa minggu sudah ditawari kerja (tanpa membuat surat lamaran)
Karena di Jakarta orangtua hanya indekost, sementara kostnya sudah penuh, maka aku tinggal di kios batik. Jika siang, kios itu dibuka untuk jualan batik, dan malam harinya aku tempati untuk tidur. Kios yang berukuran 2 X 2 meter itu penuh dengan batik dan ketika malam tiba harus ditata supaya cukup untuk tempat tidur aku seorang. Suatu ketika ada kawan yang silaturrahmi ke tempatku dan kemalaman, namun karena tempatku tidak muat untuk tidur dua orang akhirnya harus tidur di masjid. Setiap hari mandi dan buang air ke WC umum. Untuk buang air bayar gopek dan mandi+nyuci pakaian bayar seribu perak. Kalau gak mau bayar, ya mandi atau buang air di mesjid, gratiss (he he he). Begitulah pertama kali mencoba mengais rejeki di Jakarta, namun alhamdulillah langsung bisa kerja dan yang terpenting adalah dekat dengan kedua orangtua.

2 comments Desember 11, 2007

Taubat Wanita Tuna Susila

Alkisah ada seorang wanita tuna susila yang cantik sekali dan hanya mau melayani tamu jika dibayar seratus dinar. Seorang lelaki yang terpikat dengannya bekerja keras dan mengumpulkan uang sebanyak seratus dinar. Kemudian lelaki itu mendatanginya dan berkata, “Aku sangat tertarik denganmu, hingga aku rela bekerja keras sampai berhasil mengumpulkan seratus dinar.”
“Masuklah,” kata wanita itu
Setelah masuk ke dalam dan mulai untuk melakukan perbuatan keji, tiba-tiba laki-laki itu teringat Allah dan merasa sangat ketakutan. Ia berkata kepada wanita itu, “Biarkan aku keluar dan ambil saja seratus dinar ini untukmu.”
“Apa yang terjadi denganmu? Bukankah engkau yang mengatakan bahwa ketika melihatku, engkau sangat tertarik hingga rela bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar, namun setelah mendapatkanku, engkau tiba-tiba malah menolak!”
“Aku takut kepada Allah dan sangat mengawatirkan keadaanku ketika kelak di Hari Kiamat berada di hadapan-Nya. Sekarang aku membencimu dan engkau adalah wanita yang paling kubenci,” tegas laki-laki itu.
“Jika apa yang kau ucapkan benar, maka hanya dirimulah yang layak menjadi suamiku.”
Lelaki itu berkata, “Biarkan aku pergi.”
“Tidak, kecuali jika engkau menjadikanku sebagai isterimu.”
“Aku tidak mau. Biarkan aku keluar.”
“Baiklah, aku pasti akan mendatangimu agar engkau mempersuntingku,” kata wanita itu .
“Bisa saja,” jawab laki-laki itu yang kemudian memakai bajunya dan keluar dari daerah itu.
Wanita tuna susila itu pun meninggalkan daerahnya dan sangat menyesali perbuatan yang telah dilakukannya di tempat itu.
Ketika sampai ke kampung lelaki itu, dia menanyakan nama dan rumahnya. Setelah diberitahukan, ternyata lelaki itu sudah meninggal dunia. Akhirnya wanita tersebut benar-benar bertaubat menyesali perbuatannya dan hidup menyendiri menjadi wanita yang taat beribadah.
Dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah yang sangat berharga. Antara lain:
1) Sebesar apa pun dosa seseorang, dia bisa mendapatkan hidayah dan bertobat ke jalan yang benar.
2) Terkadang seseorang berpikir untuk melakukan dosa. Akan tetapi jika dia masih ingat kepada Allah, Allah pun akan mengingatnya dan menolongnya dari perbuatan keji yang akan dilakukan
3) Selain sadar sebelum melakukan perbuatan keji, laki-laki itu juga mendapatkan pahala dengan menjadi sebab taubatnya wanita itu. Sehingga saat meninggal, Insya Allah, dia mendapatkan husnul khatimah.
4) Seseorang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan menyesali perbuatannya, akan diampuni dosa-dosanya dan dilapangkan jalan menuju ketaataan.
Semoga kita semua tergolong At-Taibin (orang-orang yang bertaubat) dan senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.
Amin ya Robbal Alamin.

Add comment Desember 7, 2007

Perjalanan Cat Stevens

“Aku dilahirkan di London, jantung dunia Barat. Aku dilahirkan di era televisi dan angkasa luar. Aku dilahirkan di era teknologi mencapai puncaknya di negara yang terkenal dengan peradabannya, negara Inggris. Aku tumbuh dalam masyarakat tersebut dan aku belajar di sekolah Katholik yang mengajarkanku tentang agama Nashrani sebagai jalan hidup dan kepercayaan. Dari sini pula aku mengetahui apa yang harus kuketahui tentang Allah, al-Masih ‘Alaihis-salaam dan taqdir, yang baik maupun yang buruk.”

“Mereka banyak memberitahuku tentang Allah, sedikit tentang al-Masih dan lebih sedikit lagi tentang Ruhul Qudus (Jibril).”

“Kehidupan di sekelilingku adalah kehidupan materi. Paham materialis gencar diserukan dari berbagai media informasi. Mereka mengajarkan, kekayaan adalah kekayaan harta benda yang sesungguhnya, dan kefakiran adalah ketiadaan harta benda secara hakiki. Amerika adalah contoh negara kaya dan negara-negara dunia ketiga adalah contoh kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan kepapaan.
Karena itu, aku harus memilih dan meniti jalan kekayaan, supaya aku bisa hidup bahagia; supaya aku dapat kenikmatan hidup. Karena itu, aku membangun falsafah hidup bahwa dunia tidaklah ada kaitannya dengan agama. Falsafah inilah yang aku jalani, agar aku mendapatkan kebahagiaan jiwa.”

“Lalu, aku mulai melihat kepada sarana untuk meraih kesuksesan. Dan, cara yang paling mudah menurutku adalah dengan membeli gitar, mengarang lagu, dan menyanyikannya sendiri. Aku lalu tampil di hadapan mereka. Inilah yang benar-benar aku lakukan dengan membawa nama “Cat Stevens”. Dan tidak berapa lama, yakni ketika aku berusia 18 tahun, aku telah menyelesaikan rekaman dalam delapan kaset. Setelah itu banyak sekali tawaran. Dan aku pun bisa mengumpulkan uang yang banyak. Di samping itu, pamorku pun mencapai puncak.”

“Ketika aku berada di puncak ketenaran, aku melihat ke bawah. Aku takut jatuh! Aku dihantui kegelisahan. Akhirnya, aku mulai minum minuman keras satu botol setiap hari, supaya memotivasi keberanianku untuk menyanyi. Aku merasa orang-orang di sekelilingku berpura-pura puas. Padahal, dari wajah mereka, tak seorang pun tampak puas, kepuasan yang sesungguhnya. Semuanya harus munafik, bahkan dalam jual beli dan mencari sesuap nasi, bahkan dalam hidup! Aku merasa, ini adalah sesat. Dari sini, aku mulai membenci kehidupanku sendiri. Aku menghindar dari orang banyak. Aku lalu jatuh sakit. Aku kemudian diopname di rumah sakit karena sakit paru-paru. Ketika di rumah sakit kondisiku lebih baik karena mengajakku berpikir.”

“Aku memiliki iman kepada Allah. Tetapi, gereja belum mengenalkanku siapakah Tuhan itu dan aku tak mampu sampai pada hakikat Tuhan sebagaimana yang dibicarakan gereja! Pikiranku buntu. Maka, aku memulai berpikir tentang jalan hidup yang baru. Aku memiliki buku-buku tentang akidah dan masalah ketimuran. Aku mencari tentang Islam dan hakikatnya. Dan seperti ada perasaan, aku harus menuju pada titik tujuan tertentu, tetapi aku tidak tahu keberadaan dan pengertiannya.”

“Aku tidak puas berpangku tangan, duduk dengan pikiran kosong. Aku mulai berpikir dan mencari kebahagiaan yang tidak kudapatkan dalam kekayaan, ketenaran, puncak karir maupun di gereja. Maka aku mulai mengetuk pintu Budha dan falsafah China. Aku pun mempelajarinya. Aku mengira, kebahagiaan adalah dengan mencari berita apa yang akan terjadi di hari esok, sehingga kita bisa menghindari keburukannya. Aku berubah menjadi penganut paham Qadariyyah. Aku percaya dengan bintang-bintang, mencari berita apa yang akan terjadi. Tetapi, semua itu ternyata keliru.
Aku lalu pindah kepada ajaran komunis. Aku mengira bahwa kebajikan adalah dengan membagi kekayaan alam ini kepada setiap manusia. Tetapi, aku merasa bahwa ajaran komunis tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, keadilan adalah engkau mendapat sesuai apa yang telah engkau usahakan, dan ia tidak lari ke kantong orang lain.”

“Lalu, aku berpaling pada obat-obat penenang. Agar aku memutuskan mata rantai berbagai pikiran dan kebimbangan yang menyesakkan. Setelah itu, aku mengetahui bahwa tidak ada akidah yang bisa memberikan jawaban kepadaku. Yang bisa menjelaskan kepadaku hakikat yang sedang aku cari. Aku putus asa. Dan ketika itu aku belum mengetahui tentang Islam sama sekali. Maka aku tetap pada keyakinanku semula, pada pemahamanku yang pertama, yang aku pelajari dari gereja. Aku menyimpulkan bahwa kepercayaan-kepercayaan yang aku pelajari itu adalah keliru. Dan bahwa gereja sedikit lebih baik daripadanya. Aku kembali lagi kepada gereja. Aku kembali mengarang musik seperti semula. Dan aku merasa Kristen adalah agamaku. Aku berusaha ikhlas demi agamaku. Aku berusaha mengarang lagu-lagu dengan baik. Aku berangkat dari pemikirang Barat yang bergantung pada ajaran-ajaran gereja. Yakni, ajaran yang memberikan inspirasi kepada manusia bahwa dia akan sempurna seperti Tuhan jika ia melakukan pekerjaannya dengan baik serta ia mencintai dan ikhlas terhadap pekerjaannya.”

“Pada tahun 1975 terjadi suatu yang luar biasa, yakni ketika saudara kandungku tertua memberiku sebuah hadiah berupa satu mushaf Alquran. Mushaf itu masih tetap bersamaku sampai aku mengunjungi al-Quds Palestina. Setelah kunjungan tersebut, aku mulai mempelajari kitab yang dihadiahkan oleh saudaraku itu. Suatu kitab yang aku tidak mengetahui apa isi di dalamnya, juga tak mengetahui apa yang dibicarakannya. Lalu aku mencari terjemahan Alquran al-Karim setelah aku mengunjungi al-Quds. Pertama kalinya, melalui Alquran aku berpikir tentang apa itu Islam. Sebab, Islam menurut pandangan orang Barat adalah agama yang fanatik dan sektarian. Dan umat Islam itu sama saja. Mereka adalah orang-orang asing, baik Arab maupun Turki. Kedua orang tua saya berdarah Yunani. Dan orang Yunani sangat benci kepada orang Turki Muslim. Karena itu, seyogyanya aku membenci Alquran yang merupakan agama dan pedoman orang-orang Turki, sebagai dendam warisan. Tetapi, aku memandang, aku harus mempelajarinya (terjemahannya). Tidak mengapa aku mengetahui isinya.”

“Sejak pertama, aku merasa bahwa Alquran dimulai dengan Bismillah (dengan nama Allah), bukan dengan nama selain Allah. Dan ungkapan Bismillahirrahmanirrahiim begitu sangat berpengaruh dalam jiwaku. Lalu surat al-Fatihah itu berlanjut dengan Faatihatul Kitab, Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Segala puji milik Allah Sang Pencipta sekalian alam, dan Tuhan segenap makhluk.
Sampai waktu itu, pemikiran saya tentang Tuhan begitu lemah tak berdaya. Mereka mengatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya Allah adalah Maha Esa, tetapi terbagi menjadi tiga dzat! Bagaimana? Saya tidak mengerti’!”

“Dan, mereka mengatakan kepadaku, “Sesungguhnya Tuhan kita bukanlah Tuhannya orang Yahudi.”
Adapun Alquran, maka ia mulai dengan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, Tuhan segenap alam semesta. Alqura menegaskan keesaan Sang Pencipta. Dia tidak memiliki sekutu yang berbagi kekuasaan dengan-Nya. Dan, ini adalah pemahaman baru bagiku. Sebelumnya, sebelum aku mengetahui Alquran, aku hanya mengetahui adanya pemahaman kesesuaian dan kekuatan yang mampu mengalahkan mu’jizat. Adapun sekarang, dengan pemahaman Islam, aku mengetahu bahwa hanya Allah semata yang mampu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

“Hal itu masih dibarengi dengan keimanan terhadap hari akhir dan bahwa kehidupan akhirat itu abadi. Jadi, tidaklah manusia itu dari segumpal daging kemudian berubah setiap hari kemudian menjadi debu, sebagaimana yang dikatakan oleh ahli biologi. Sebaliknya, apa yang kita lakukan dalam kehidupan dunia ini sangat menentukan keadaan yang akan terjadi dalam kehidupan di akhirat nanti. Alquran-lah yang menyeruku kepada Islam. Maka aku pun memenuhi seruannya. Adapun gereja yang menghancurkanku dan membuatku lelah dan letih, maka dialah yang mengantarkanku kepada Alquran. Yakni, ketika aku tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan jiwa dan kalbuku.”

“Di dalam Alquran aku melihat sesuatu yang asing. Ia tidak sama dengan kitab-kitab lain. Ia tidak mengandung beberapa bagian atau sifat-sifat yang ada dalam kitab-kitab agama lain yang telah kubaca. Di sampul Alquran juga aku tidak mendapatkan nama pengarangnya. Karena itu, aku yakin betul dengan makna wahyu yang Allah wahyukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus-Nya. Kini aku telah memahami dengan jelas betul tentang perbedaan Alquran dengan Injil yang ditulis oleh tangan-tangan pengarang yang berbeda-beda sehingga melahirkan kisah-kisah yang bertentangan.
Aku berusaha untuk mencari kesalahan di dalam Alquran, tetapi aku tidak menemukannya. Semua isi Alquran adalah sesuai dengan pemikiran keesaan Allah yang murni. Dari sini, aku mulai mengenal tentang apa itu Islam.”

“Alquran bukanlah satu-satunya risalah. Sebaliknya, di dalam Alquran didapatkan nama-nama semua nabi yang dimuliakan oleh Allah. Alquran tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Dan teori ini sangat logis. Sebab, jika anda beriman kepada seorang nabi dan tidak kepada yang lainnya, berarti anda telah mengingkari dan menghancurkan kesatuan risalah. Dari sejak itu, aku memahami bagaimana berantainya risalah sejak awal penciptaan manusia. Dan bahwa manusia sepanjang sejarah selalu terdiri dari dua barisan, mu’min dan kafir. Alquran telah menjawab semua hal yang kupertanyakan. Dengan demikian, aku merasa bahagia. Kebahagiaan mendapatkan kebenaran.”

“Aku mulai membaca Alquran semuanya, sepanjang satu tahun penuh. Aku mulai menerapkan pemahaman yang aku baca dari Alquran. Saat itu aku merasa bahwa akulah satu-satunya muslim di muka bumi ini. Lalu aku berpikir bagaimana aku menjadi muslim yang sesungguhnya. Maka aku pergi ke masjid London dan aku mengumumkan keislamanku. Aku mengatakan, ‘Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah’.”

“Ketika itu, aku yakin bahwa Islam yang kupeluk adalah risalah yang berat, bukan suatu pekerjaan yang selesai dengan sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku telah dilahirkan kembali. Dan aku telah mengetahui ke mana aku berjalan bersama saudara-saudara muslimku yang lainnya. Sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah menemui salah seorang dari mereka. Seandainya pun ada seorang muslim yang menemuiku dan mengajakku kepada Islam, tentu aku menolak ajakkannya, karena keadaan umat Islam yang diremehkan dan diolok-olok oleh media informasi Barat. Bahkan, media umat Islam sendiri sering mengolok-olok hakikat Islam. Mereka justru sering mendukung berbagai kedustaan dan kebohongan yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam, padahal mereka ini tidak mampu memperbaiki bangsa mereka sendiri yang kini telah dihancurkan oleh penyakit-penyakit akhlak, sosial, dan sebagainya.”

“Aku telah mempelajari Islam dari sumbernya yang utama, yaitu Alquran. Selanjutnya, aku mempelajari sejarah hidup (sirah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau dengan perilaku dan sunnahnya mengajarkan Islam kepada umat Islam. Aku lalu mengetahui kekayaan yang agung dari kehidupan dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku sudah lupa musik. Aku bertanya kepada kawan-kawanku, “Apa aku mesti melanjutkan karir musikku?” Mereka menasihatiku agar aku berhenti, sebab musik akan melalaikan dari mengingat Allah. Dan itu bahaya besar. Aku menyaksikan pemuda-pemudi yang meninggalkan keluarga mereka dan hidup di tengah-tengah musik dan lagu. Ini adalah sesuatu yang tidak diridhai oleh Islam, yang menganjurkan dibangunnya generasi-generasi tangguh.”

Itulah sekilas kisah islamnya seorang penyanyi terkenal dari Inggris. Ia setelah memeluk Islam mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Allah telah mengganti segala yang ia dapatkan dari musik yang kemudian dia tinggalkan dengan hidayah iman kepada-Nya yang tak dapat dibandingkan dengan apa pun jua.

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Idonesia

Add comment November 26, 2007

Kisah Taubat Pembegal Jalan

Kisah Taubat Pembegal

Al-Fudhail merampok seorang diri. Suatu malam, ia keluar untuk merampok. Malam itu, sebuah kafilah datang. Di antara mereka berkata satu sama lain, “Masuklah bersama kami ke desa ini. Sesungguhnya di hadapan kita ada seorang perampok bernama Al-Fudhail.” Mendengar perkataan itu, Al-Fudhail gemetar. Ia lantas berkata, “Wahai kaum, akulah Al-Fadhil. Lewatlah, demi Allah aku akan berusaha keras untuk tidak bermaksiat lagi selamanya.” Ia pun mengubah kebiasaannya.

Riwayat versi lain menyebutkan Al-Fudhail menjamu mereka malam itu. Ia berkata, “Kalian aman dari Al-Fudhail.” Selanjutnya, ia keluar dan berkali-kali membawa makanan. Dalam pada itu, ia mendengar seseorang membacakan ayat,

 “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (Al-Hadid: 16).

Al-Fudhail menyela, “Sekarang sudah tiba waktunya.” Itulah awal pertaubatannya.

1 comment November 23, 2007

Keajaiban Tauhid

Dia lelaki sederhana yang tidak belajar ilmu agama. Namun, bilik hatinya dipenuhi kecintaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kegemaran membela agama-Nya. Suatu hari, ia menghadiri pengajian yang disampaikan oleh salah seorang dai. Di saat membawakan pengajian, si dai berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Dua kalimat ringan di lidah, tetapi berat di timbangan dan disukai Yang Maha Pengasih; Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahal azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah dan Mahamulia).’” (H.R. Al-Bukhari)

Hati lelaki sederhana ini tergerak mendengar kalimat itu. Setelah pengajian selesai, ia keluar dan bertekad untuk berdakwah menyampaikan hadits tersebut. Mulailah ia menemui pedagang sayur dan berkata, “Dua kalimat ringan di lidah…”  kemudian menemui tukang jagal. Satu-satunya keinginan dia adalah mengajarkan hadits ini kepada seluruh manusia.

Suatu ketika, orang tersebut menderita sakit keras sampai harus menjalani operasi. Dokter yang menanganinya kebetulan tidak shalat dan tidak pula mengenal masjid.

Setelah operasi, tiba-tiba orang itu bangun, padahal ia masih dalam pengaruh anestasi. Ia berkata, “Wahai dokter.” Si dokter bertanya, “Apakah engkau menginginkan sesuatu?” Ia berkata, “Dua kalimat ringan di lidah, tetapi berat di timbangan dan disukai Yang Maha Pengasih; Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahal azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah dan Mahamulia),” kemudian lelaki itu meninggal.

Si dokter merasa heran orang itu bisa bangun di bawah pengaruh obat bius sekadar untuk menyampaikan hadits ini. Menyaksikan peristiwa itu, dokter itu pun bertaubat, kemudian pergi untuk menuntut ilmu agama sampai akhirnya sekarang menjadi dai terkemuka. Semua itu masuk ke dalam timbangan kebaikan lelaki sederhana yang tidak belajar ilmu agama, tetapi ikhlas berdakwah mengajak manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun sekadar dengan satu hadits.

Sumber: Kisah Orang-orang Saleh dalam Mendidik Anak

Add comment November 23, 2007

Kitab Kuning yang Terselamatkan

Kisah nyata ini dialami oleh seorang ibu dari Pekalongan Jawa Tengah. Sebelum berangkat menunaikan haji, anaknya yang mengaji di Pondok Pesantren Al-Falah, Kediri, Jawa Timur memintanya untuk membelikan kitab-kitab kuning yang diajarkan di Pondoknya. Karena kitab-kitab itu sulit didapatkan atau bahkan tidak dijual di Indonesia, maka dia meminta ibunya untuk membelikannya di Makkah.

Ibu itu pun menyanggupi permintaan anaknya. Ketika hendak pulang ke Indonesia, sang ibu terlebih dahulu membelikan kitab pesanan anaknya. Ternyata kitab yang dipesan anaknya jumlahnya lumayan banyak, meskipun hanya beberapa judul, namun karena kitab itu terdiri dari beberapa jilid maka tidak heran kalau satu koper penuh berisi kitab.

Saat ibu itu dan jamaah haji yang satu kloter dengannya di Makkah dan meletakkan barang-barang bawaannya di pinggir jalan untuk kemudian diangkut mobil menuju Jeddah, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras. Barang-barang jamaah haji yang berisi koper dan tas dan berada di pinggir jalan sedang menanti mobil untuk mengangkutnya itu, tak ayal terkena guyuran air hujan. Di tengah hujan deras itu, tiba-tiba ada seseorang tak dikenal yang menyelamatkan kopor milik ibu itu yang berisi kitab kuning untuk kemudian ditaruh di tempat yang tidak terkena air hujan. Sungguh aneh, orang itu hanya menyelamatkan kopor itu dan tidak mengambil barang-barang milik jamaah haji lainnya. Sehingga di tempat itu seluruh tas, kopor, beserta isinya basah kuyup, kecuali kopor yang berisi kitab kuning tersebut.

2 comments November 22, 2007

Previous Posts


Arsip

Tulisan Teratas

Tulisan Terakhir

Blogroll

Media Islam Indonesia

Ormas dan Gerakan Islam

 

November 2009
S S R K J S M
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30