Archive for November, 2007
Perjalanan Cat Stevens
“Aku dilahirkan di London, jantung dunia Barat. Aku dilahirkan di era televisi dan angkasa luar. Aku dilahirkan di era teknologi mencapai puncaknya di negara yang terkenal dengan peradabannya, negara Inggris. Aku tumbuh dalam masyarakat tersebut dan aku belajar di sekolah Katholik yang mengajarkanku tentang agama Nashrani sebagai jalan hidup dan kepercayaan. Dari sini pula aku mengetahui apa yang harus kuketahui tentang Allah, al-Masih ‘Alaihis-salaam dan taqdir, yang baik maupun yang buruk.”
“Mereka banyak memberitahuku tentang Allah, sedikit tentang al-Masih dan lebih sedikit lagi tentang Ruhul Qudus (Jibril).”
“Kehidupan di sekelilingku adalah kehidupan materi. Paham materialis gencar diserukan dari berbagai media informasi. Mereka mengajarkan, kekayaan adalah kekayaan harta benda yang sesungguhnya, dan kefakiran adalah ketiadaan harta benda secara hakiki. Amerika adalah contoh negara kaya dan negara-negara dunia ketiga adalah contoh kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan kepapaan.
Karena itu, aku harus memilih dan meniti jalan kekayaan, supaya aku bisa hidup bahagia; supaya aku dapat kenikmatan hidup. Karena itu, aku membangun falsafah hidup bahwa dunia tidaklah ada kaitannya dengan agama. Falsafah inilah yang aku jalani, agar aku mendapatkan kebahagiaan jiwa.”
“Lalu, aku mulai melihat kepada sarana untuk meraih kesuksesan. Dan, cara yang paling mudah menurutku adalah dengan membeli gitar, mengarang lagu, dan menyanyikannya sendiri. Aku lalu tampil di hadapan mereka. Inilah yang benar-benar aku lakukan dengan membawa nama “Cat Stevens”. Dan tidak berapa lama, yakni ketika aku berusia 18 tahun, aku telah menyelesaikan rekaman dalam delapan kaset. Setelah itu banyak sekali tawaran. Dan aku pun bisa mengumpulkan uang yang banyak. Di samping itu, pamorku pun mencapai puncak.”
“Ketika aku berada di puncak ketenaran, aku melihat ke bawah. Aku takut jatuh! Aku dihantui kegelisahan. Akhirnya, aku mulai minum minuman keras satu botol setiap hari, supaya memotivasi keberanianku untuk menyanyi. Aku merasa orang-orang di sekelilingku berpura-pura puas. Padahal, dari wajah mereka, tak seorang pun tampak puas, kepuasan yang sesungguhnya. Semuanya harus munafik, bahkan dalam jual beli dan mencari sesuap nasi, bahkan dalam hidup! Aku merasa, ini adalah sesat. Dari sini, aku mulai membenci kehidupanku sendiri. Aku menghindar dari orang banyak. Aku lalu jatuh sakit. Aku kemudian diopname di rumah sakit karena sakit paru-paru. Ketika di rumah sakit kondisiku lebih baik karena mengajakku berpikir.”
“Aku memiliki iman kepada Allah. Tetapi, gereja belum mengenalkanku siapakah Tuhan itu dan aku tak mampu sampai pada hakikat Tuhan sebagaimana yang dibicarakan gereja! Pikiranku buntu. Maka, aku memulai berpikir tentang jalan hidup yang baru. Aku memiliki buku-buku tentang akidah dan masalah ketimuran. Aku mencari tentang Islam dan hakikatnya. Dan seperti ada perasaan, aku harus menuju pada titik tujuan tertentu, tetapi aku tidak tahu keberadaan dan pengertiannya.”
“Aku tidak puas berpangku tangan, duduk dengan pikiran kosong. Aku mulai berpikir dan mencari kebahagiaan yang tidak kudapatkan dalam kekayaan, ketenaran, puncak karir maupun di gereja. Maka aku mulai mengetuk pintu Budha dan falsafah China. Aku pun mempelajarinya. Aku mengira, kebahagiaan adalah dengan mencari berita apa yang akan terjadi di hari esok, sehingga kita bisa menghindari keburukannya. Aku berubah menjadi penganut paham Qadariyyah. Aku percaya dengan bintang-bintang, mencari berita apa yang akan terjadi. Tetapi, semua itu ternyata keliru.
Aku lalu pindah kepada ajaran komunis. Aku mengira bahwa kebajikan adalah dengan membagi kekayaan alam ini kepada setiap manusia. Tetapi, aku merasa bahwa ajaran komunis tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, keadilan adalah engkau mendapat sesuai apa yang telah engkau usahakan, dan ia tidak lari ke kantong orang lain.”
“Lalu, aku berpaling pada obat-obat penenang. Agar aku memutuskan mata rantai berbagai pikiran dan kebimbangan yang menyesakkan. Setelah itu, aku mengetahui bahwa tidak ada akidah yang bisa memberikan jawaban kepadaku. Yang bisa menjelaskan kepadaku hakikat yang sedang aku cari. Aku putus asa. Dan ketika itu aku belum mengetahui tentang Islam sama sekali. Maka aku tetap pada keyakinanku semula, pada pemahamanku yang pertama, yang aku pelajari dari gereja. Aku menyimpulkan bahwa kepercayaan-kepercayaan yang aku pelajari itu adalah keliru. Dan bahwa gereja sedikit lebih baik daripadanya. Aku kembali lagi kepada gereja. Aku kembali mengarang musik seperti semula. Dan aku merasa Kristen adalah agamaku. Aku berusaha ikhlas demi agamaku. Aku berusaha mengarang lagu-lagu dengan baik. Aku berangkat dari pemikirang Barat yang bergantung pada ajaran-ajaran gereja. Yakni, ajaran yang memberikan inspirasi kepada manusia bahwa dia akan sempurna seperti Tuhan jika ia melakukan pekerjaannya dengan baik serta ia mencintai dan ikhlas terhadap pekerjaannya.”
“Pada tahun 1975 terjadi suatu yang luar biasa, yakni ketika saudara kandungku tertua memberiku sebuah hadiah berupa satu mushaf Alquran. Mushaf itu masih tetap bersamaku sampai aku mengunjungi al-Quds Palestina. Setelah kunjungan tersebut, aku mulai mempelajari kitab yang dihadiahkan oleh saudaraku itu. Suatu kitab yang aku tidak mengetahui apa isi di dalamnya, juga tak mengetahui apa yang dibicarakannya. Lalu aku mencari terjemahan Alquran al-Karim setelah aku mengunjungi al-Quds. Pertama kalinya, melalui Alquran aku berpikir tentang apa itu Islam. Sebab, Islam menurut pandangan orang Barat adalah agama yang fanatik dan sektarian. Dan umat Islam itu sama saja. Mereka adalah orang-orang asing, baik Arab maupun Turki. Kedua orang tua saya berdarah Yunani. Dan orang Yunani sangat benci kepada orang Turki Muslim. Karena itu, seyogyanya aku membenci Alquran yang merupakan agama dan pedoman orang-orang Turki, sebagai dendam warisan. Tetapi, aku memandang, aku harus mempelajarinya (terjemahannya). Tidak mengapa aku mengetahui isinya.”
“Sejak pertama, aku merasa bahwa Alquran dimulai dengan Bismillah (dengan nama Allah), bukan dengan nama selain Allah. Dan ungkapan Bismillahirrahmanirrahiim begitu sangat berpengaruh dalam jiwaku. Lalu surat al-Fatihah itu berlanjut dengan Faatihatul Kitab, Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Segala puji milik Allah Sang Pencipta sekalian alam, dan Tuhan segenap makhluk.
Sampai waktu itu, pemikiran saya tentang Tuhan begitu lemah tak berdaya. Mereka mengatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya Allah adalah Maha Esa, tetapi terbagi menjadi tiga dzat! Bagaimana? Saya tidak mengerti’!”
“Dan, mereka mengatakan kepadaku, “Sesungguhnya Tuhan kita bukanlah Tuhannya orang Yahudi.”
Adapun Alquran, maka ia mulai dengan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, Tuhan segenap alam semesta. Alqura menegaskan keesaan Sang Pencipta. Dia tidak memiliki sekutu yang berbagi kekuasaan dengan-Nya. Dan, ini adalah pemahaman baru bagiku. Sebelumnya, sebelum aku mengetahui Alquran, aku hanya mengetahui adanya pemahaman kesesuaian dan kekuatan yang mampu mengalahkan mu’jizat. Adapun sekarang, dengan pemahaman Islam, aku mengetahu bahwa hanya Allah semata yang mampu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Hal itu masih dibarengi dengan keimanan terhadap hari akhir dan bahwa kehidupan akhirat itu abadi. Jadi, tidaklah manusia itu dari segumpal daging kemudian berubah setiap hari kemudian menjadi debu, sebagaimana yang dikatakan oleh ahli biologi. Sebaliknya, apa yang kita lakukan dalam kehidupan dunia ini sangat menentukan keadaan yang akan terjadi dalam kehidupan di akhirat nanti. Alquran-lah yang menyeruku kepada Islam. Maka aku pun memenuhi seruannya. Adapun gereja yang menghancurkanku dan membuatku lelah dan letih, maka dialah yang mengantarkanku kepada Alquran. Yakni, ketika aku tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan jiwa dan kalbuku.”
“Di dalam Alquran aku melihat sesuatu yang asing. Ia tidak sama dengan kitab-kitab lain. Ia tidak mengandung beberapa bagian atau sifat-sifat yang ada dalam kitab-kitab agama lain yang telah kubaca. Di sampul Alquran juga aku tidak mendapatkan nama pengarangnya. Karena itu, aku yakin betul dengan makna wahyu yang Allah wahyukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus-Nya. Kini aku telah memahami dengan jelas betul tentang perbedaan Alquran dengan Injil yang ditulis oleh tangan-tangan pengarang yang berbeda-beda sehingga melahirkan kisah-kisah yang bertentangan.
Aku berusaha untuk mencari kesalahan di dalam Alquran, tetapi aku tidak menemukannya. Semua isi Alquran adalah sesuai dengan pemikiran keesaan Allah yang murni. Dari sini, aku mulai mengenal tentang apa itu Islam.”
“Alquran bukanlah satu-satunya risalah. Sebaliknya, di dalam Alquran didapatkan nama-nama semua nabi yang dimuliakan oleh Allah. Alquran tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Dan teori ini sangat logis. Sebab, jika anda beriman kepada seorang nabi dan tidak kepada yang lainnya, berarti anda telah mengingkari dan menghancurkan kesatuan risalah. Dari sejak itu, aku memahami bagaimana berantainya risalah sejak awal penciptaan manusia. Dan bahwa manusia sepanjang sejarah selalu terdiri dari dua barisan, mu’min dan kafir. Alquran telah menjawab semua hal yang kupertanyakan. Dengan demikian, aku merasa bahagia. Kebahagiaan mendapatkan kebenaran.”
“Aku mulai membaca Alquran semuanya, sepanjang satu tahun penuh. Aku mulai menerapkan pemahaman yang aku baca dari Alquran. Saat itu aku merasa bahwa akulah satu-satunya muslim di muka bumi ini. Lalu aku berpikir bagaimana aku menjadi muslim yang sesungguhnya. Maka aku pergi ke masjid London dan aku mengumumkan keislamanku. Aku mengatakan, ‘Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah’.”
“Ketika itu, aku yakin bahwa Islam yang kupeluk adalah risalah yang berat, bukan suatu pekerjaan yang selesai dengan sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku telah dilahirkan kembali. Dan aku telah mengetahui ke mana aku berjalan bersama saudara-saudara muslimku yang lainnya. Sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah menemui salah seorang dari mereka. Seandainya pun ada seorang muslim yang menemuiku dan mengajakku kepada Islam, tentu aku menolak ajakkannya, karena keadaan umat Islam yang diremehkan dan diolok-olok oleh media informasi Barat. Bahkan, media umat Islam sendiri sering mengolok-olok hakikat Islam. Mereka justru sering mendukung berbagai kedustaan dan kebohongan yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam, padahal mereka ini tidak mampu memperbaiki bangsa mereka sendiri yang kini telah dihancurkan oleh penyakit-penyakit akhlak, sosial, dan sebagainya.”
“Aku telah mempelajari Islam dari sumbernya yang utama, yaitu Alquran. Selanjutnya, aku mempelajari sejarah hidup (sirah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau dengan perilaku dan sunnahnya mengajarkan Islam kepada umat Islam. Aku lalu mengetahui kekayaan yang agung dari kehidupan dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku sudah lupa musik. Aku bertanya kepada kawan-kawanku, “Apa aku mesti melanjutkan karir musikku?” Mereka menasihatiku agar aku berhenti, sebab musik akan melalaikan dari mengingat Allah. Dan itu bahaya besar. Aku menyaksikan pemuda-pemudi yang meninggalkan keluarga mereka dan hidup di tengah-tengah musik dan lagu. Ini adalah sesuatu yang tidak diridhai oleh Islam, yang menganjurkan dibangunnya generasi-generasi tangguh.”
Itulah sekilas kisah islamnya seorang penyanyi terkenal dari Inggris. Ia setelah memeluk Islam mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Allah telah mengganti segala yang ia dapatkan dari musik yang kemudian dia tinggalkan dengan hidayah iman kepada-Nya yang tak dapat dibandingkan dengan apa pun jua.
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Idonesia
Kisah Taubat Pembegal Jalan
Kisah Taubat Pembegal
Al-Fudhail merampok seorang diri. Suatu malam, ia keluar untuk merampok. Malam itu, sebuah kafilah datang. Di antara mereka berkata satu sama lain, “Masuklah bersama kami ke desa ini. Sesungguhnya di hadapan kita ada seorang perampok bernama Al-Fudhail.” Mendengar perkataan itu, Al-Fudhail gemetar. Ia lantas berkata, “Wahai kaum, akulah Al-Fadhil. Lewatlah, demi Allah aku akan berusaha keras untuk tidak bermaksiat lagi selamanya.” Ia pun mengubah kebiasaannya.
Riwayat versi lain menyebutkan Al-Fudhail menjamu mereka malam itu. Ia berkata, “Kalian aman dari Al-Fudhail.” Selanjutnya, ia keluar dan berkali-kali membawa makanan. Dalam pada itu, ia mendengar seseorang membacakan ayat,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (Al-Hadid: 16).
Al-Fudhail menyela, “Sekarang sudah tiba waktunya.” Itulah awal pertaubatannya.
Keajaiban Tauhid
Dia lelaki sederhana yang tidak belajar ilmu agama. Namun, bilik hatinya dipenuhi kecintaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kegemaran membela agama-Nya. Suatu hari, ia menghadiri pengajian yang disampaikan oleh salah seorang dai. Di saat membawakan pengajian, si dai berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Dua kalimat ringan di lidah, tetapi berat di timbangan dan disukai Yang Maha Pengasih; Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahal azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah dan Mahamulia).’” (H.R. Al-Bukhari)
Hati lelaki sederhana ini tergerak mendengar kalimat itu. Setelah pengajian selesai, ia keluar dan bertekad untuk berdakwah menyampaikan hadits tersebut. Mulailah ia menemui pedagang sayur dan berkata, “Dua kalimat ringan di lidah…” kemudian menemui tukang jagal. Satu-satunya keinginan dia adalah mengajarkan hadits ini kepada seluruh manusia.
Suatu ketika, orang tersebut menderita sakit keras sampai harus menjalani operasi. Dokter yang menanganinya kebetulan tidak shalat dan tidak pula mengenal masjid.
Setelah operasi, tiba-tiba orang itu bangun, padahal ia masih dalam pengaruh anestasi. Ia berkata, “Wahai dokter.” Si dokter bertanya, “Apakah engkau menginginkan sesuatu?” Ia berkata, “Dua kalimat ringan di lidah, tetapi berat di timbangan dan disukai Yang Maha Pengasih; Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahal azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah dan Mahamulia),” kemudian lelaki itu meninggal.
Si dokter merasa heran orang itu bisa bangun di bawah pengaruh obat bius sekadar untuk menyampaikan hadits ini. Menyaksikan peristiwa itu, dokter itu pun bertaubat, kemudian pergi untuk menuntut ilmu agama sampai akhirnya sekarang menjadi dai terkemuka. Semua itu masuk ke dalam timbangan kebaikan lelaki sederhana yang tidak belajar ilmu agama, tetapi ikhlas berdakwah mengajak manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun sekadar dengan satu hadits.
Sumber: Kisah Orang-orang Saleh dalam Mendidik Anak
Kitab Kuning yang Terselamatkan
Kisah nyata ini dialami oleh seorang ibu dari Pekalongan Jawa Tengah. Sebelum berangkat menunaikan haji, anaknya yang mengaji di Pondok Pesantren Al-Falah, Kediri, Jawa Timur memintanya untuk membelikan kitab-kitab kuning yang diajarkan di Pondoknya. Karena kitab-kitab itu sulit didapatkan atau bahkan tidak dijual di Indonesia, maka dia meminta ibunya untuk membelikannya di Makkah.
Ibu itu pun menyanggupi permintaan anaknya. Ketika hendak pulang ke Indonesia, sang ibu terlebih dahulu membelikan kitab pesanan anaknya. Ternyata kitab yang dipesan anaknya jumlahnya lumayan banyak, meskipun hanya beberapa judul, namun karena kitab itu terdiri dari beberapa jilid maka tidak heran kalau satu koper penuh berisi kitab.
Saat ibu itu dan jamaah haji yang satu kloter dengannya di Makkah dan meletakkan barang-barang bawaannya di pinggir jalan untuk kemudian diangkut mobil menuju Jeddah, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras. Barang-barang jamaah haji yang berisi koper dan tas dan berada di pinggir jalan sedang menanti mobil untuk mengangkutnya itu, tak ayal terkena guyuran air hujan. Di tengah hujan deras itu, tiba-tiba ada seseorang tak dikenal yang menyelamatkan kopor milik ibu itu yang berisi kitab kuning untuk kemudian ditaruh di tempat yang tidak terkena air hujan. Sungguh aneh, orang itu hanya menyelamatkan kopor itu dan tidak mengambil barang-barang milik jamaah haji lainnya. Sehingga di tempat itu seluruh tas, kopor, beserta isinya basah kuyup, kecuali kopor yang berisi kitab kuning tersebut.
Kisah Ibu dan Anak
Abu ‘Ubaidah -seorang ahli bahasa- bercerita, bahwasanya telah terjadi suatu perBincangan antara Abu Al-Aswad ad-Du`aly dengan istrinya perihal anak mereka. Abu Al-Aswad ingin mengambil anak tersebut dari asuhan istrinya. Merekapun pergi ke Basrah untuk menemui gubernur Ziyad. Sang istri berkata, “Semoga Allah mengaruniakan kemaslahatan untuk Anda. Anak ini adalah anakku…Sesungguhnya perutku telah menjadi tempatnya bersemayam, pangkuanku menjadi tempatnya membenamkan diri, dan air susuku menjadi penghilang dahaganya. Aku mengawasinya saat dia tertidur dan menjaganya saat dia terbangun.
Ini berlaku sampai dia berusia tujuh tahun. Usia dimana dia bisa terpisah dariku, sudah sempurna tabiatnya, dan usia dimana persendiannya telah menjadi kuat. Akupun berangan bisa memberi kemanfaatan padanya. Aku juga berharap bisa mempertahankanya. Namun tiba-tiba suamiku ingin mengambilnya dariku dengan paksa. Maka dukung dan bantulah aku wahai Pemimpin kami, karena suamiku sungguh menginginkan kesediahnku, diapun ingin memaksaku”.
Abu Al-Aswad yang merupakan bapak dari si anak berkata, “Semoga Allah mengaruniakan kemaslahatan padamu wahai Pemimpin kami. Anak ini adalah anakku. Aku mengandungnya sebelum istriku mengandungnya. Akupun melahirkannya sebelum istriku melahirkannya. Aku juga mengajarinya tata krama, memperhatikan kepayahannya, memberinya ilmuku, dan mengilhaminya dengan mimpiku sampai sempurna akalnya dan menjadi kuat otot-otot lengannya”. Sang istri menimpali, “Benar –semoga Allah mengaruniakan kebaikan padamu wahai Pemimpin kami- memang suamikulah yang mengandungnya. Tapi dia mengandungnya dengan mudah, sedang aku mengandungnya dengan berat. Dia melahirkanya dengan penuh nafsu, sedang aku melahirkannya dengan kepayahan”. Lalu gubernur Ziyad memutuskan dengan ucapannya, “Kembalikanlah anak itu pada wanita yang telah melahirkannya. Dia lebih berhak atas anak itu dari pada dirimu. Dan lepaskanlah niatanmu (untuk mengambil anak tsb)!”
10 Kriteria Aliran Sesat
1 Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
2 Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
3 Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
4 Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
5 Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
6 Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
7 Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
8 Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
9 Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
10 Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i
Sumber: MUI
Melihat fatwa seperti ini ada harapan namun juga ada kekhawatiran. Harapannya semoga dengan adanya fatwa seperti ini, orang atau golongan yang berinisiatif membuat ajaran tersendiri bisa berfikir ulang, dan masyarakat bisa menilai pendapat yang menyimpang sehingga mereka bisa menjauhi aliran yang sesat dan menyesatkan. Namun, kekhawatiran tetap ada, mengingat dengan adanya fatwa seperti ini bisa diselewengkan dan bisa untuk melegalisasi sebuah kelompok dikatakan sesat. Semisal pada butir 1 dikatakan “Mengingkari rukun iman dan rukun Islam” sekarang apakah semua kelompok sudah sepakat ada berapa rukun iman dan rukun Islam. Bagaimana jika bilangan rukun Islam dan rukun Iman suatu kelompok berbeda dengan yang disepakati MUI? Dan masih banyak lagi celah yang apabila disalahartikan akan mengakibatkan stigma yang berbahaya.