Archive for Desember, 2007

Keajaiban Air Zam-zam

Padang Arafah bagi mayoritas jamaah haji memberikan kesan yang luar biasa. Hal itu pun dirasakan Mawardi Bahrain, pembimbing jamaah haji PT Cordova Abila Travel. Lelaki yang selama 12 tahun lebih bermukim di Makkah dan sepanjang itu pula membimbing jamaah haji dan umrah asal Indonesia maupun jamaah negara lain itu mengakui, Padang Arafah memberikan pengalaman mengesankan. Bahkan, pada penyelenggaraan haji tahun 1425 H, ia merasakan wukuf di Padang Arafah ketika itu, laksana wukuf terakhir baginya. ”Saat wukuf di Padang Arafah, kesan yang saya tangkap, justru kepasrahan totalitas kepada kehendak Allah SWT.
Sangat sulit digambarkan dengan kata-kata,” jelas pria asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Saat khutbah wukuf disampaikan, lanjut suami Rabiyatul Adawiyah ini, kepasrahan itu makin memuncak. Demikian pula saat doa wukuf dikumandangkan baik secara bersama-sama maupun berdoa sendiri. ”Saya pasrah apapun kehendak Allah. Kalau saat itu, Allah menghendaki saya harus kembali (dipanggil ke hadirat-Nya), saya pun rela,” ungkap Mawardi.
Ia mengungkapkan, Padang Arafah yang merupakan gambaran Padang Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia di hari kiamat kelak, {red}), dirasakannya sebagai bentuk kedekatan seorang hamba kepada Sang Khaliq (Maha Pencipta). Begitu dekatnya hubungan itu, sampai-sampai ia mengidamkan bisa meninggalkan dunia ini saat itu. ”Begitu pasrahnya terhadap kehendak Allah, saya merasa hari itu adalah hari terakhir hidup saya. Sehingga, kalau nyawa saya dicabut pun saat itu, saya rela. Dan itu pula yang saya idam-idamkan,” tuturnya.
Karena itu pula, menjelang wukuf pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1425 H, ia pun sempat berpamitan kepada orang tua dan sanak keluarganya. Dan ketika ia menyampaikan hal itu kepada keluarganya termasuk isterinya, semuanya bertanya-tanya. Gerangan apakah yang dialami Mawardi? ”Saya sampaikan, agar keluarga tabah dan sabar, kalau saya hari itu dipanggil Allah. Karena saya merasa itu hari terakhir saya,” ujarnya.
Namun, rupanya Allah masih memberinya umur. Hingga saat ini ia masih mendapat kesempatan untuk membimbing jamaah haji dan umrah dari PT Cordova Abila Travel. Pengalaman lainnya yang dirasakan Mawardi selama menunaikan ibadah haji maupun selama mukim di Makkah, adalah keagungan Allah berupa air zam-zam. Jika merasakan sesuatu yang ‘ganjil’ atau menghadapi masalah, ia selalu meminum air zam-zam. Demikian pula apabila sahabat, keluarga atau pun orang lain menghadapi masalah, ia selalu menganjurkan untuk meminum air zam-zam. Dengan itu, ia berharap Allah memberikan pertolongan.
Kebesaran dan keagungan yang Allah berikan pada air zam-zam, itu pula yang ia rasakan ketika pertama kali tinggal di Makkah. Di asrama, ia sering mengalami sakit. ”Saat masih menjadi pelajar di Ponpes Showlatiyah — milik Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki– saya sempat merasakan kesulitan buang air kecil. Saya disarankan oleh sepupu saya agar meminum air zam-zam, dengan berbagai etika, tata cara yang sopan dan doa serta menghadap kiblat. Beberapa saat setelah meminum air zam-zam, saya pun ingin ke belakang. Dan tanpa disangka, ternyata saya kencing batu. Setelah itu, perasaan saya pun menjadi tenang dan tidak merasakannya lagi,” papar pria kelahiran Mataram, 15 September 1971 ini.
Demikian pula ketika hendak menghafal Alquran, kata Mawardi, ia juga selalu meminum air zam-zam. Atas kehendak Allah, ia pun dengan lancar bisa menghafal dalam waktu yang relatif singkat. ”Alhamdulillah, saya lancar menghafalnya,” jelas Mawardi. Kebesaran dan keagungan Allah pada air zam-zam, kembali dirasakannya ketika isterinya mengalami keguguran. Karena di dalam rahim isterinya masih menyisakan sesuatu setelah keguguran, kata Mawardi, dokter setempat menyarankan agar di-kiret. Setelah bertanya ke sana-ke mari, efek dari kiret tersebut, ia pun pasrah.
”Saya minta dokter yang melakukan kiret harus dokter wanita. Dan sehari menjelang kiret dilakukan, saya minta isteri agar minum air zam-zam. Alhamdulillah, ketika saya bawa ke dokter dan siap di-kiret, ternyata kata dokternya semuanya sudah beres dan tidak perlu dilakukan kiret lagi,” jelas ayah satu anak, Muhammad Al-Fateh (1,5 tahun) ini.
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=242446&kat_id=354

Desember 19, 2007 at 7:54 am 1 komentar

Perempuan Pertama yang Membunuh Yahudi (Shafiyah Binti Abdul Muthallib)

Dalam perang Khandaq, kaum kafir Quraisy berkumpul dan bergabung dengan para koalisinya dari suku-suku bangsa Arab. Sedangkan Rasulullah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menggali parit sekitar kota Madinah sebagaimana yang di usulkan Salman Al-Farisi. Allah telah mengirimkan angin topan dan badai yang ganas yang memporak-porandakan perkemahan dan melemahkan kekuatan bertempur musuh-musuh Islam sehingga mereka lari tunggang langgang dan tercerai berai kembali ke negara asalnya.
Rasulullah selalu menempatkan kaum perempuan dalam Athamm, yaitu sebuah benteng yang bangunannya berasal dari bebatuan yang kokoh. Entah dari mana, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang berusaha menyadap pembicaraan dan mengungkap rahasia kaum muslimin dengan mengendap-endap di pinggir tembok. Sayyidah Shafiyyah berkata, “Kemudian aku mengambil sebuah batang kayu lalu turun untuk menyergapnya hingga aku membuka pintu sedikit demi sedikit. Aku pun mengangkat kayu tersebut dan memukulkan padanya, sehingga aku berhasil membunuhnya.”

Desember 17, 2007 at 8:54 am Tinggalkan Komentar

Hasil Survey Pemahaman Keagamaan Masyarakat (oleh Depag)

Hari sabtu kemarin, aku mendapat tugas dari perusahaan untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Litbang Depag (Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama). Seminar tentang hasil survey literatur keagamaan dan pemahaman keagamaan masyarakat tersebut diselenggarakan di hotel Alia Cikini. Jakarta.
Sebenarnya malas ikut seminar, apalagi waktunya yang semestinya bisa aku buat untuk istirahat (sabtu hanya masuk setengah hari saja), tetapi karena sudah tugas dan kepengin tahu seminar tentang apa akhirnya aku dan seorang kawan ikut berangkat ke seminar itu.
Ternyata, materinya adalah pemaparan dari Litbang Depag atas hasil survey yang mereka lakukan (filenya dapat dilihat di attachment). Survey seperti ini sebenarnya masih banyak celahnya dan pertanyaan yang diajukan oleh surveyor masih sangat rancu. Antara lain ada pertanyaan tentang buku apa yang pernah dibaca oleh responden. Hasilnya, yang terbanyak ketiga adalah Usamah bin Laden. Padahal Usamah sama sekali belum pernah menerbitkan buku, lalu dari mana para responden membaca buku karya Usamah? Dari Hongkong? J Juga ada survey yang menyatakan bahwa pengarang terfavorit di Aceh dan Sumatra adalah Nur Kholis Majid yang mengungguli Aa Gym, Qurais Syihab, bahkan Hamka. Kenapa kok tidak ada nama Faudzil Adzim, Helvi Tiana, Habiburrahman Syairozi, atau Saifuddin Zuhri, dll? Dalam hati, saya merasa ada yang tidak beres, apalagi yang mengepalai survey adalah orang-orang dari Paramadina. Wah kayaknya ada titipan nih.
Namun bagaimana pun juga saya perlu memberi apresiasi kepada mereka tentang pekerjaan yang telah mereka lakukan (meskipun biasanya kayak begini adalah proyek yang ujung2nya uang). Selain itu saya juga berterima kasih karena panitia menyelenggarakan acara ini di hotel sekaligus menyediakan makanan enak apalagi pulangnya dikasih amplop (Sssst ini rahasia lho)

Desember 11, 2007 at 5:49 am 1 komentar

Perjalanan Mengais Rejeki di Jakarta (1)

Sebelumnya sama sekali tidak terbayang bahwa akan mengais rejeki di Jakarta. Ketika masih di Mesir (sebelum lulus), idealisme masih tinggi dan cita-cita tergantung setinggi langit. Ya, aku pulang harus berdakwah, mengajar, dan menularkan ilmu yang aku peroleh selama ini kepada masyarakat. Masalah rejeki, itu urusan belakangan, bukankah Allah Maha Pemberi Rejeki? Bukankah aku ke Mesir untuk tafaqquh fiddin (belajar agama) yang tujuannya adalah liyundziru qaumahum idza raja’u ilaihim (memberi peringatan kepada kaumnya setelah pulang)?
Namun ternyata keinginan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Setelah tiba di Pekalongan, karena orangtua berada di Jakarta membuka kios batik, maka aku ikut pula ke Jakarta. Ternyata beberapa hari di sana ada tawaran untuk bekerja di penerbit yang biasa memberikan order terjemahan sewaktu aku masih di Mesir. Akhirnya aku menetapkan untuk bekerja dan tidak kembali ke Pekalongan, mengingat kondisi ekonomi yang belum stabil.
Kantor pertama tempat aku bekerja sebagai karyawan bernama Maghfirah Pustaka yang bergerak di bidang penerbitan buku. Waktu itu, kantorku sedang punya proyek membuat Al-Qur`an tajwid delapan warna, dan aku ditawari untuk menjadi korektor. Alhamdulillah, baru pulang beberapa minggu sudah ditawari kerja (tanpa membuat surat lamaran)
Karena di Jakarta orangtua hanya indekost, sementara kostnya sudah penuh, maka aku tinggal di kios batik. Jika siang, kios itu dibuka untuk jualan batik, dan malam harinya aku tempati untuk tidur. Kios yang berukuran 2 X 2 meter itu penuh dengan batik dan ketika malam tiba harus ditata supaya cukup untuk tempat tidur aku seorang. Suatu ketika ada kawan yang silaturrahmi ke tempatku dan kemalaman, namun karena tempatku tidak muat untuk tidur dua orang akhirnya harus tidur di masjid. Setiap hari mandi dan buang air ke WC umum. Untuk buang air bayar gopek dan mandi+nyuci pakaian bayar seribu perak. Kalau gak mau bayar, ya mandi atau buang air di mesjid, gratiss (he he he). Begitulah pertama kali mencoba mengais rejeki di Jakarta, namun alhamdulillah langsung bisa kerja dan yang terpenting adalah dekat dengan kedua orangtua.

Desember 11, 2007 at 5:40 am 2 komentar

Taubat Wanita Tuna Susila

Alkisah ada seorang wanita tuna susila yang cantik sekali dan hanya mau melayani tamu jika dibayar seratus dinar. Seorang lelaki yang terpikat dengannya bekerja keras dan mengumpulkan uang sebanyak seratus dinar. Kemudian lelaki itu mendatanginya dan berkata, “Aku sangat tertarik denganmu, hingga aku rela bekerja keras sampai berhasil mengumpulkan seratus dinar.”
“Masuklah,” kata wanita itu
Setelah masuk ke dalam dan mulai untuk melakukan perbuatan keji, tiba-tiba laki-laki itu teringat Allah dan merasa sangat ketakutan. Ia berkata kepada wanita itu, “Biarkan aku keluar dan ambil saja seratus dinar ini untukmu.”
“Apa yang terjadi denganmu? Bukankah engkau yang mengatakan bahwa ketika melihatku, engkau sangat tertarik hingga rela bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar, namun setelah mendapatkanku, engkau tiba-tiba malah menolak!”
“Aku takut kepada Allah dan sangat mengawatirkan keadaanku ketika kelak di Hari Kiamat berada di hadapan-Nya. Sekarang aku membencimu dan engkau adalah wanita yang paling kubenci,” tegas laki-laki itu.
“Jika apa yang kau ucapkan benar, maka hanya dirimulah yang layak menjadi suamiku.”
Lelaki itu berkata, “Biarkan aku pergi.”
“Tidak, kecuali jika engkau menjadikanku sebagai isterimu.”
“Aku tidak mau. Biarkan aku keluar.”
“Baiklah, aku pasti akan mendatangimu agar engkau mempersuntingku,” kata wanita itu .
“Bisa saja,” jawab laki-laki itu yang kemudian memakai bajunya dan keluar dari daerah itu.
Wanita tuna susila itu pun meninggalkan daerahnya dan sangat menyesali perbuatan yang telah dilakukannya di tempat itu.
Ketika sampai ke kampung lelaki itu, dia menanyakan nama dan rumahnya. Setelah diberitahukan, ternyata lelaki itu sudah meninggal dunia. Akhirnya wanita tersebut benar-benar bertaubat menyesali perbuatannya dan hidup menyendiri menjadi wanita yang taat beribadah.
Dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah yang sangat berharga. Antara lain:
1) Sebesar apa pun dosa seseorang, dia bisa mendapatkan hidayah dan bertobat ke jalan yang benar.
2) Terkadang seseorang berpikir untuk melakukan dosa. Akan tetapi jika dia masih ingat kepada Allah, Allah pun akan mengingatnya dan menolongnya dari perbuatan keji yang akan dilakukan
3) Selain sadar sebelum melakukan perbuatan keji, laki-laki itu juga mendapatkan pahala dengan menjadi sebab taubatnya wanita itu. Sehingga saat meninggal, Insya Allah, dia mendapatkan husnul khatimah.
4) Seseorang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan menyesali perbuatannya, akan diampuni dosa-dosanya dan dilapangkan jalan menuju ketaataan.
Semoga kita semua tergolong At-Taibin (orang-orang yang bertaubat) dan senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.
Amin ya Robbal Alamin.

Desember 7, 2007 at 7:36 am Tinggalkan Komentar


Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Tulisan Terkini

 

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.