Archive for Desember 11, 2007
Hasil Survey Pemahaman Keagamaan Masyarakat (oleh Depag)
Hari sabtu kemarin, aku mendapat tugas dari perusahaan untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Litbang Depag (Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama). Seminar tentang hasil survey literatur keagamaan dan pemahaman keagamaan masyarakat tersebut diselenggarakan di hotel Alia Cikini. Jakarta.
Sebenarnya malas ikut seminar, apalagi waktunya yang semestinya bisa aku buat untuk istirahat (sabtu hanya masuk setengah hari saja), tetapi karena sudah tugas dan kepengin tahu seminar tentang apa akhirnya aku dan seorang kawan ikut berangkat ke seminar itu.
Ternyata, materinya adalah pemaparan dari Litbang Depag atas hasil survey yang mereka lakukan (filenya dapat dilihat di attachment). Survey seperti ini sebenarnya masih banyak celahnya dan pertanyaan yang diajukan oleh surveyor masih sangat rancu. Antara lain ada pertanyaan tentang buku apa yang pernah dibaca oleh responden. Hasilnya, yang terbanyak ketiga adalah Usamah bin Laden. Padahal Usamah sama sekali belum pernah menerbitkan buku, lalu dari mana para responden membaca buku karya Usamah? Dari Hongkong? J Juga ada survey yang menyatakan bahwa pengarang terfavorit di Aceh dan Sumatra adalah Nur Kholis Majid yang mengungguli Aa Gym, Qurais Syihab, bahkan Hamka. Kenapa kok tidak ada nama Faudzil Adzim, Helvi Tiana, Habiburrahman Syairozi, atau Saifuddin Zuhri, dll? Dalam hati, saya merasa ada yang tidak beres, apalagi yang mengepalai survey adalah orang-orang dari Paramadina. Wah kayaknya ada titipan nih.
Namun bagaimana pun juga saya perlu memberi apresiasi kepada mereka tentang pekerjaan yang telah mereka lakukan (meskipun biasanya kayak begini adalah proyek yang ujung2nya uang). Selain itu saya juga berterima kasih karena panitia menyelenggarakan acara ini di hotel sekaligus menyediakan makanan enak apalagi pulangnya dikasih amplop (Sssst ini rahasia lho)
Perjalanan Mengais Rejeki di Jakarta (1)
Sebelumnya sama sekali tidak terbayang bahwa akan mengais rejeki di Jakarta. Ketika masih di Mesir (sebelum lulus), idealisme masih tinggi dan cita-cita tergantung setinggi langit. Ya, aku pulang harus berdakwah, mengajar, dan menularkan ilmu yang aku peroleh selama ini kepada masyarakat. Masalah rejeki, itu urusan belakangan, bukankah Allah Maha Pemberi Rejeki? Bukankah aku ke Mesir untuk tafaqquh fiddin (belajar agama) yang tujuannya adalah liyundziru qaumahum idza raja’u ilaihim (memberi peringatan kepada kaumnya setelah pulang)?
Namun ternyata keinginan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Setelah tiba di Pekalongan, karena orangtua berada di Jakarta membuka kios batik, maka aku ikut pula ke Jakarta. Ternyata beberapa hari di sana ada tawaran untuk bekerja di penerbit yang biasa memberikan order terjemahan sewaktu aku masih di Mesir. Akhirnya aku menetapkan untuk bekerja dan tidak kembali ke Pekalongan, mengingat kondisi ekonomi yang belum stabil.
Kantor pertama tempat aku bekerja sebagai karyawan bernama Maghfirah Pustaka yang bergerak di bidang penerbitan buku. Waktu itu, kantorku sedang punya proyek membuat Al-Qur`an tajwid delapan warna, dan aku ditawari untuk menjadi korektor. Alhamdulillah, baru pulang beberapa minggu sudah ditawari kerja (tanpa membuat surat lamaran)
Karena di Jakarta orangtua hanya indekost, sementara kostnya sudah penuh, maka aku tinggal di kios batik. Jika siang, kios itu dibuka untuk jualan batik, dan malam harinya aku tempati untuk tidur. Kios yang berukuran 2 X 2 meter itu penuh dengan batik dan ketika malam tiba harus ditata supaya cukup untuk tempat tidur aku seorang. Suatu ketika ada kawan yang silaturrahmi ke tempatku dan kemalaman, namun karena tempatku tidak muat untuk tidur dua orang akhirnya harus tidur di masjid. Setiap hari mandi dan buang air ke WC umum. Untuk buang air bayar gopek dan mandi+nyuci pakaian bayar seribu perak. Kalau gak mau bayar, ya mandi atau buang air di mesjid, gratiss (he he he). Begitulah pertama kali mencoba mengais rejeki di Jakarta, namun alhamdulillah langsung bisa kerja dan yang terpenting adalah dekat dengan kedua orangtua.