Perjalanan Mengais Rejeki di Jakarta (1)

Desember 11, 2007 at 5:40 am 2 komentar

Sebelumnya sama sekali tidak terbayang bahwa akan mengais rejeki di Jakarta. Ketika masih di Mesir (sebelum lulus), idealisme masih tinggi dan cita-cita tergantung setinggi langit. Ya, aku pulang harus berdakwah, mengajar, dan menularkan ilmu yang aku peroleh selama ini kepada masyarakat. Masalah rejeki, itu urusan belakangan, bukankah Allah Maha Pemberi Rejeki? Bukankah aku ke Mesir untuk tafaqquh fiddin (belajar agama) yang tujuannya adalah liyundziru qaumahum idza raja’u ilaihim (memberi peringatan kepada kaumnya setelah pulang)?
Namun ternyata keinginan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Setelah tiba di Pekalongan, karena orangtua berada di Jakarta membuka kios batik, maka aku ikut pula ke Jakarta. Ternyata beberapa hari di sana ada tawaran untuk bekerja di penerbit yang biasa memberikan order terjemahan sewaktu aku masih di Mesir. Akhirnya aku menetapkan untuk bekerja dan tidak kembali ke Pekalongan, mengingat kondisi ekonomi yang belum stabil.
Kantor pertama tempat aku bekerja sebagai karyawan bernama Maghfirah Pustaka yang bergerak di bidang penerbitan buku. Waktu itu, kantorku sedang punya proyek membuat Al-Qur`an tajwid delapan warna, dan aku ditawari untuk menjadi korektor. Alhamdulillah, baru pulang beberapa minggu sudah ditawari kerja (tanpa membuat surat lamaran)
Karena di Jakarta orangtua hanya indekost, sementara kostnya sudah penuh, maka aku tinggal di kios batik. Jika siang, kios itu dibuka untuk jualan batik, dan malam harinya aku tempati untuk tidur. Kios yang berukuran 2 X 2 meter itu penuh dengan batik dan ketika malam tiba harus ditata supaya cukup untuk tempat tidur aku seorang. Suatu ketika ada kawan yang silaturrahmi ke tempatku dan kemalaman, namun karena tempatku tidak muat untuk tidur dua orang akhirnya harus tidur di masjid. Setiap hari mandi dan buang air ke WC umum. Untuk buang air bayar gopek dan mandi+nyuci pakaian bayar seribu perak. Kalau gak mau bayar, ya mandi atau buang air di mesjid, gratiss (he he he). Begitulah pertama kali mencoba mengais rejeki di Jakarta, namun alhamdulillah langsung bisa kerja dan yang terpenting adalah dekat dengan kedua orangtua.

Entry filed under: curhat. Tags: .

Taubat Wanita Tuna Susila Hasil Survey Pemahaman Keagamaan Masyarakat (oleh Depag)

2 Komentar Add your own

  • 1. rizal  |  Maret 6, 2008 pada 3:47 pm

    salam dr cairo

    Balas
  • 2. yasir maqosid  |  April 11, 2008 pada 8:50 am

    Salam kembali :)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Tulisan Terkini

 

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.