Keajaiban Air Zam-zam

Padang Arafah bagi mayoritas jamaah haji memberikan kesan yang luar biasa. Hal itu pun dirasakan Mawardi Bahrain, pembimbing jamaah haji PT Cordova Abila Travel. Lelaki yang selama 12 tahun lebih bermukim di Makkah dan sepanjang itu pula membimbing jamaah haji dan umrah asal Indonesia maupun jamaah negara lain itu mengakui, Padang Arafah memberikan pengalaman mengesankan. Bahkan, pada penyelenggaraan haji tahun 1425 H, ia merasakan wukuf di Padang Arafah ketika itu, laksana wukuf terakhir baginya. ”Saat wukuf di Padang Arafah, kesan yang saya tangkap, justru kepasrahan totalitas kepada kehendak Allah SWT.
Sangat sulit digambarkan dengan kata-kata,” jelas pria asal Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Saat khutbah wukuf disampaikan, lanjut suami Rabiyatul Adawiyah ini, kepasrahan itu makin memuncak. Demikian pula saat doa wukuf dikumandangkan baik secara bersama-sama maupun berdoa sendiri. ”Saya pasrah apapun kehendak Allah. Kalau saat itu, Allah menghendaki saya harus kembali (dipanggil ke hadirat-Nya), saya pun rela,” ungkap Mawardi.
Ia mengungkapkan, Padang Arafah yang merupakan gambaran Padang Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia di hari kiamat kelak, {red}), dirasakannya sebagai bentuk kedekatan seorang hamba kepada Sang Khaliq (Maha Pencipta). Begitu dekatnya hubungan itu, sampai-sampai ia mengidamkan bisa meninggalkan dunia ini saat itu. ”Begitu pasrahnya terhadap kehendak Allah, saya merasa hari itu adalah hari terakhir hidup saya. Sehingga, kalau nyawa saya dicabut pun saat itu, saya rela. Dan itu pula yang saya idam-idamkan,” tuturnya.
Karena itu pula, menjelang wukuf pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1425 H, ia pun sempat berpamitan kepada orang tua dan sanak keluarganya. Dan ketika ia menyampaikan hal itu kepada keluarganya termasuk isterinya, semuanya bertanya-tanya. Gerangan apakah yang dialami Mawardi? ”Saya sampaikan, agar keluarga tabah dan sabar, kalau saya hari itu dipanggil Allah. Karena saya merasa itu hari terakhir saya,” ujarnya.
Namun, rupanya Allah masih memberinya umur. Hingga saat ini ia masih mendapat kesempatan untuk membimbing jamaah haji dan umrah dari PT Cordova Abila Travel. Pengalaman lainnya yang dirasakan Mawardi selama menunaikan ibadah haji maupun selama mukim di Makkah, adalah keagungan Allah berupa air zam-zam. Jika merasakan sesuatu yang ‘ganjil’ atau menghadapi masalah, ia selalu meminum air zam-zam. Demikian pula apabila sahabat, keluarga atau pun orang lain menghadapi masalah, ia selalu menganjurkan untuk meminum air zam-zam. Dengan itu, ia berharap Allah memberikan pertolongan.
Kebesaran dan keagungan yang Allah berikan pada air zam-zam, itu pula yang ia rasakan ketika pertama kali tinggal di Makkah. Di asrama, ia sering mengalami sakit. ”Saat masih menjadi pelajar di Ponpes Showlatiyah — milik Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki– saya sempat merasakan kesulitan buang air kecil. Saya disarankan oleh sepupu saya agar meminum air zam-zam, dengan berbagai etika, tata cara yang sopan dan doa serta menghadap kiblat. Beberapa saat setelah meminum air zam-zam, saya pun ingin ke belakang. Dan tanpa disangka, ternyata saya kencing batu. Setelah itu, perasaan saya pun menjadi tenang dan tidak merasakannya lagi,” papar pria kelahiran Mataram, 15 September 1971 ini.
Demikian pula ketika hendak menghafal Alquran, kata Mawardi, ia juga selalu meminum air zam-zam. Atas kehendak Allah, ia pun dengan lancar bisa menghafal dalam waktu yang relatif singkat. ”Alhamdulillah, saya lancar menghafalnya,” jelas Mawardi. Kebesaran dan keagungan Allah pada air zam-zam, kembali dirasakannya ketika isterinya mengalami keguguran. Karena di dalam rahim isterinya masih menyisakan sesuatu setelah keguguran, kata Mawardi, dokter setempat menyarankan agar di-kiret. Setelah bertanya ke sana-ke mari, efek dari kiret tersebut, ia pun pasrah.
”Saya minta dokter yang melakukan kiret harus dokter wanita. Dan sehari menjelang kiret dilakukan, saya minta isteri agar minum air zam-zam. Alhamdulillah, ketika saya bawa ke dokter dan siap di-kiret, ternyata kata dokternya semuanya sudah beres dan tidak perlu dilakukan kiret lagi,” jelas ayah satu anak, Muhammad Al-Fateh (1,5 tahun) ini.
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=242446&kat_id=354

Tentang yasir maqosid

Dilahirkan di Kota Pekalongan. Mengenyam pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir, selanjutnya meneruskan sampai jenjang Magister di IAIN Pekalogan. Aktifitas mengajar di STAIN Pekalongan, Majlis Ta'lim At-Tafaqquh dan Program TV Batik dalam acara "Rohani Islam"
Pos ini dipublikasikan di Kisah dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Keajaiban Air Zam-zam

  1. afwan sekarbela berkata:

    thank for ust.mawardi atas kisah spiritualnya,batur side lekan sekarbele.patoh lek mekah mesi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s