Oleh: Yasir Maqosid, Lc
Setiap orang yang menikah tentunya mendambakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah (Samara). Namun untuk mewujudkan keluarga samara, tidaklah semudah membalik telapak tangan, akan tetapi perlu menempuh langkah-langkah yang tepat.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih pasangan yang tepat.
Setiap orang tentu menghendaki pasangannya memiliki sifat-sifat yang perfect (sempurna). Padahal, yang namanya kesempurnaan adalah sesuatu yang mustahil ada pada diri manusia. Tidak ada satu pun laki-laki atau perempuan yang memiliki sifat-sifat sempurna yang diharapkan oleh calon pasangannya. Meskipun demikian, Rasulullah saw memberikan tuntunan bagi setiap orang yang ingin menikah agar menjatuhkan pilihan terbaiknya didasarkan pada ketebalan iman dan agama calon pasangannya.

Rasulullah saw bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah (wanita) yang punya agama, maka kamu akan beruntung.”
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa manusia pada umumnya lebih memilih sesuatu yang sifatnya lahiriah, dalam hal ini harta atau nasab (keturunan), atau kecantikan. Padahal hal tersebut merupakan suatu kekeliruan. Seharusnya, setiap laki-laki yang ingin menikah hendaknya pertama kali yang dilihat pada calon pasangannya adalah kualitas agamanya, dan bukan yang lain.


Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menikahi wanita karena (terpesona) kecantikannya. Bisa saja kecantikannya itu akan merusakkan dirinya. Janganlah kalian menikahi wanita karena hartanya. Bisa saja hartanya itu menyebabkan dia berbuat di luar batas. Akan tetapi menikahlah dengan perempuan yang memiliki agama (yang kuat). Sungguh, seorang budak sahaya berkulit hitam yang memiliki agama (yang kuat) itu lebih baik.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam hadits lainnya Rasulullah saw menganjurkan untuk menikahi wanita yang salehah. Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang didapat seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik daripada istri yang solehah. (Yaitu istri) yang ketika diperintah dia menurut, ketika dia dipandang menyenangkan, ketika bersumpah dia memenuhi sumpah dengan baik, dan ketika suaminya tidak bersamanya, dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah)
Sungguh, laki-laki yang mendasarkan pilihan berdasarkan agama calon pasangannya tidak akan pernah menyesal, bahkan dia akan beruntung karena hidupnya akan senantiasa bahagia. Sebab, jika dunia ini adalah perhiasan, maka perhiasan terindah adalah istri yang solehah. Yaitu istri yang memiliki agama yang kuat, dapat menjaga harga dirinya dan keluarganya.
Begitu pula seorang perempuan ketika hendak menikah hendaklah memilih calon pasangannya yang bertakwa. Rasulullah saw memberi arahan kepada para wanita atau wali wanita dalam memilih calon suami atau calon menantu. Beliau bersabda, “Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridha terhadap akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan ada fitnah di bumi dan kerusakan yang sangat parah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Agama dan akhlak adalah dua hal yang saling melengkapi (komplementer). Jika salah satunya tidak ada maka tidak akan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga.
Dikisahkan ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kriteria pemuda yang pantas untuk dipilih sebagai menantunya. Al-Hasan Al-Bashri lalu berkata kepada orang itu, “Hendaknya engkau memilih laki-laki yang baik agamanya. Sebab, jika dia mencintai putrimu, maka dia akan memuliakannya. Dan jika dia tidak suka terhadap putrimu, maka dia tidak akan menyia-nyiakannya.”
Suami yang soleh pasti akan memberi makan istrinya dari barang halal serta akan menjaga agama dan harga diri istrinya. Sedangkan suami yang fasik, bisa jadi dengan kefasikannya itu rezekinya menjadi sempit, kebobrokannya suatu saat akan terungkap dan dia akan memperlakukan istrinya secara keji. Dengan demikian suasana rumah tangga tidak akan pernah harmonis, bahkan dapat mengalami kehancuran.
Oleh karena itu, memilih calon pasangan merupakan pintu pertama menuju gerbang kesuksesan keluarga. Jika dari awal sudah salah langkah, maka langkah selanjutnya juga akan memberatkan. Dengan menikahi pasangan hidup yang kuat agamanya, juga akan melahirkan generasi muslim yang taat beragama, sehingga akan tercipta masyarakat Islam yang taat beragama.

Tentang yasir maqosid

Dilahirkan di Kota Pekalongan. Mengenyam pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir, selanjutnya meneruskan sampai jenjang Magister di IAIN Pekalogan. Aktifitas mengajar di STAIN Pekalongan, Majlis Ta'lim At-Tafaqquh dan Program TV Batik dalam acara "Rohani Islam"
Pos ini dipublikasikan di KELUARGA, Opini dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s