Menghidupkan Sunnah Rasulullah Saw

menghidupkan sunnahDalam peringatan Maulid Nabi Saw perlu diungkap fakta-fakta sejarah tentang baginda Nabi Saw dan akhlak dan perilaku-perilaku beliau yang dapat menjadi teladan bagi umat Islam, khususnya generasi sekarang yang dilanda krisis akhlak. Potret sejarah kehidupan Nabi Saw akan selalu relevan dan selalu dibutuhkan ibarat oase di padang pasir. Apalagi, bagi masyarakat yang hidup di zaman serba modern seperti saat ini tentunya butuh sesuatu yang bisa mencerahkan, yaitu semangat hidup dan keteladanan.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzaab:21).

Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah Saw, karena Allah Swt sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah Saw sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah Saw berarti dia telah menempuh jalan yang lurus yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan, cinta dan ridha Allah Swt. Allah Swt berfirman,

Dalam ayat tersebut juga dapat diambil hikmah bahwasanya Rasulullah SAW merupakan suri tauladan :

1. Bagi orang-orang yang hanya mengharapkan Allah, yaitu al-muqorrobun (ahli haqiqah).

2. Bagi orang yang mengharapkan mengaharapkan di hari akhir (selamat dari neraka dan masuk surga), yaitu al-abraar (ahli syari’ah)

3. Bagi orang yang banyak berdzikir kepada Allah, yaitu ahli thoriqah.

Dengan demikian, maka semua umat Islam, baik ahli syari’ah, ahli thoriqah maupun ahli haqiqah kesemuannya harus mengambil suri tauladan dari Rasulullaah Saw.
Mengambil suri taulan ini adalah diperintahkan oleh Allah Swt sebagaimana dalam firman-Nya:
“ Katakanlah :”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Ali Imran:31)

Al-ittiba’(mengikuti jejak Rosulullah) itulah yang dimaksud dengan mengambil suri tauladan dari Rasulullah Saw. Memang tidak ada jalan menuju Allah ( mencari keridlaan Allah, pendekatan diri kepada Allah, juga pahala-pahala dari Allah) kecuali hanya mengikuti jejak-jejak Rasulullah Saw, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Qasim al-Junaidi Rahimahullah, “Semua Jalan menuju Allah adalah tertutup, kecuali orang-orang yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah Saw.”

Juga seperti yang dikatakan oleh Syaikh Tajuddin Ibnu Atha’illah as- Sakandari Rahimaullah, “Sungguh Allah telah mengumpulkan kebajikan seluruhnya di dalam rumah, dan Allah telah membuat kuncinya, yaitu mengikuti jejak-jejak Nabi Saw. Barang siapa yang telah dibukakan baginya pintu mutaba’ah, maka hal itu menunjukkan bahwa ia telah dicintai oleh Allah Swt.”

Mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW itu, adalah berarti menghidupkan sunnah Rasulullah, sekaligus berarti mencintai beliau, yang pada akhirnya akan masuk kedalam surga bersama-sama dengan beliaau, sebagaimana sabda beliau, “Barang siapa menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga “ ( HR. Thabrani dari Anas ibnu Malik)

Adapun menghidupkan sunnah Rasulullah itu adalah dengan beberapa cara antara lain: At-Tamassaku (berpegang teguh sekaligus mengamalkan), sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnahku di saat rusaknya umatku, maka baginya pahala seperti pahala orang mati syahid.” (Ath-Thabrani)

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam Al-Ghunyah menuturkan bahwasanya Rasulullah Saw shalat Shubuh bersama para sahabatnya, lalu beliau menasehati mereka dengan nasehat yang fasih, yang karenanya kami meneteskan airmata, hati tergetar, dan kulit bagai terbakar. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh seakan ini adalah nasehat perpisahan.” Rasulullah Saw bersabda, “Aku berwasiat pada kalian semua untuk bertaqwa kepada Allah, mendengarkan, dan taat, sekalaipun ia budak Habsyi. Barangsiapa yang hidup setelah aku , niscaya akan  melihat banyak perselisihan (alira), ketika itu berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur Rasyidin setelah aku, pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu.”

 

Tentang yasir maqosid

Dilahirkan di Kota Pekalongan. Mengenyam pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir, selanjutnya meneruskan sampai jenjang Magister di IAIN Pekalogan. Aktifitas mengajar di STAIN Pekalongan, Majlis Ta'lim At-Tafaqquh dan Program TV Batik dalam acara "Rohani Islam"
Pos ini dipublikasikan di Dakwah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s