Sunnah Rasululah Saw dalam Istinja’

sunnah istinja'Rasulullah Saw merupakan pribadi sempurna, yang setiap perbuatan dan perkataan beliau menjadi sunnah yang patut diteladani oleh setiap orang yang ingin bersama-sama dengan beliau kelak di surga. Salah satu Sunnah beliau dalam hal Istinja’ (buang hajat) adalah sebagai berikut:

–          Tidak membawa sesuatu yang bertuliskan nama Allah Swt.

Misalnya adalah memakai cincin yang bertuliskan nama Allah Swt dan semacamnya. Kita diperintahkan untuk mengagungkan nama Allah sehingga tidak selayaknya sesuatu yang ada nama Allah dibawa ke tempat yang najis. Ada sebuah riwayat dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki kamar mandi, beliau meletakkan cincinnya.”(HR. Abu Dawud)

–          Menutup diri dan menjauh dari manusia ketika buang hajat.

Jabir bin Abdullah meriwayatkan, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah Saw ketika dalam perjalanan, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat. (HR. Ibnu Majah)

– Membaca basmalah dan berdoa meminta perlindungan pada Allah sebelum masuk tempat buang hajat.

Hal ini jika seseorang memasuki tempat buang hajat berupa bangunan. Sedangkan ketika berada di tanah lapang, maka ia mengucapkannya di saat melepaskan pakaiannya, Rasulullah Saw bersabda, “Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia adalah jika salah seorang di antara mereka memasuki tempat buang hajat, lalu ia ucapkan “Bismillah”. Juga riwayat dari Anas bin Malik bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”(HR. Bukhari dan Muslim)
–          Masuk ke tempat buang hajat terlebih dahulu dengan kaki kiri dan keluar dari tempat tersebut dengan kaki kanan.

Untuk dalam perkara yang baik-baik seperti memakai sandal dan menyisir, maka kita dituntunkan untuk mendahulukan yang kanan. Sebagaimana terdapat dalam hadits, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab “Nailul Authar” rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke tempat buang hajat dan kaki kanan ketika keluar, maka itu memiliki alasan dari sisi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka mendahulukan yang kanan untuk hal-hal yang baik-baik. Sedangkan untuk hal-hal yang jelek (kotor), beliau lebih suka mendahulukan yang kiri. Hal ini berdasarkan dalil yang sifatnya global.”

–          Tidak menghadap kiblat atau pun membelakanginya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Namun kalau kita berada di Indonesia, maka berdasarkan hadits ini kita dilarang buang hajat dengan menghadap arah barat dan timur, dan diperintahkan menghadap ke utara atau selatan.
–          Tidak berbicara kecuali dalam keadaan darurat.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya.”(HR. Muslim)

Sudah kita ketahui bahwa menjawab salam itu wajib. Ketika buang hajat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, maka ini menunjukkan berbicara dilarang ketika itu, lebih-lebih lagi jika dalam pembicaraan itu mengandung dzikir pada Allah Ta’ala. Akan tetapi, jika seseorang berbicara karena ada suatu keperluan yang mesti dilakukan ketika itu, seperti menunjuki jalan pada orang (ketika ditanya saat itu, pen) atau ingin meminta air dan semacamnya, maka dibolehkan saat itu karena alasan darurat.

–          Tidak buang hajat di air yang tergenang.

Jabir bin ‘Abdillah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.”(HR. Muslim)
Imam Ar-Rafi’i mengatakan, “Larangan di sini berlaku untuk air tergenang yang sedikit maupun banyak karena sama-sama dapat mencemari.”

–          Tidak beristinja’ dan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam bejana. Jika ia buang hajat, janganlah ia memegang kemaluan dengan tangan kanannya. Janganlah pula ia beristinja’ dengan tangan kanannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Beristinja’ bisa dengan menggunakan air atau menggunakan minimal tiga batu (istijmar). Beristinja’ dengan menggunakan air lebih utama daripada menggunakan batu sebagaimana menjadi pendapat Madzbah Imam Asy Syafi’i

–          Menjaga tubuh dan pakaian dari najis ketika buang air.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melewati dua kubur yang kedua penghuninya tengah disiksa. Maka beliau bersabda, “Adapun salah satu dari keduanya, maka dia tidak berbersih ketika buang air.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Mengucapkan do’a “ghufronaka” setelah keluar kamar mandi.

Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).”(Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Demikian beberapa adab ketika buang hajat dan meneladani Sunnah Rasulullah Saw. Semoga Allah memberi kepahaman dan memudahkan kita untuk mengamalkan adab-adab yang mulia ini. Semoga Allah selalu menambahkan ilmu yang bermanfaat yang akan membuahkan amal yang shalih.

Tentang yasir maqosid

Dilahirkan di Kota Pekalongan. Mengenyam pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir, selanjutnya meneruskan sampai jenjang Magister di IAIN Pekalogan. Aktifitas mengajar di STAIN Pekalongan, Majlis Ta'lim At-Tafaqquh dan Program TV Batik dalam acara "Rohani Islam"
Pos ini dipublikasikan di Dakwah, Sunnah Rasulullah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s