Artikel Dakwah: Kesabaran Rasulullah saw

kesabaran rasulullah

Rasulullah saw adalah seorang yang memiliki kesabaran luar biasa dan patut dicontoh oleh umatnya. Beliau tidak pernah marah apabila pribadinya dihina atau dipermalukan, beliau hanya akan marah apabila syariat yang ditetapkan Allah dilanggar. Kesabaran Rasulullah saw dapat dilihat ketika suatu hari penduduk Makkah meminta beliau agar merubah bukit Shafa menjadi emas dan memindahkan gunung itu dari tempatnya semula. Tiba-tiba ada suara yang berkata kepadanya, “Engkau boleh memilih, apakah engkau mau dipermalukan karena Aku (Allah) tidak mengabulkan permintaan mereka, atau Aku akan memberikan apa yang mereka minta, jika (setelah dikabulkan) mereka tetap dalam keadaan kafir, maka Aku akan menghancurkan mereka seperti halnya umat-umat sebelum mereka?” Nabi menjawab, “Tidak, lebih baik aku dipermalukan mereka.” (HR. Ahmad)

Rasulullah saw juga bersabar dalam berdakwah kepada kaumnya. Tidak sedikit orang-orang yang mengejek, menghina, mencaci maki, bahkan melempari beliau dengan batu tatkala beliau berdakwa kepada mereka. Lika-liku dakwah beliau lalui dengan tetap menunjukkan kesabaran. Hal ini patut menjadi contoh bagi kita semua. Diriwayatkan suatu ketika Thufail bin Amr Ad-Dausi menemui Rasulullah SAW. Suatu ketika Thufail melapor kepada beliau, “Kaum Daus telah durhaka dan membangkang. Mohon kiranya engkau berdoa kepada Allah untuk mereka,”. Rasulullah SAW pun menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Mereka tentu celaka!” sahut orang-orang yang hadir. Kemudian Beliau berdoa, “Ya Allah, berikanlah petunjuk untuk kaum Daus dan turunkanlah rahmat-Mu kepada mereka!” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, dan Ibnu Sa’d) Beliau tidak mendoakan buruk kepada orang-orang jahil yang memang tidak mengetahui, bahkan beliau mendoakan supaya mereka diberi rahmat oleh Allah Ta’ala. Inilah teladan yang patut dicontoh oleh kita semua.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia bertanya kepada Nabi saw, “Apakah ada hari lain yang paling berat bagi engkau daripada perang Uhud?” Beliau menjawab, “Yaitu hari ketika aku telah bertemu dengan kaummu. Ada di antara mereka yang kutemui saat Hari Aqabah. Hari itu dirasakan berat olehku. Saat itu, aku datang seraya menyapa Bani Abdi Kulal. Tetapi mereka tidak menjawab apa yang saya inginkan.

Dalam keadaan bingung dan sedih, aku pergi meninggalkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, aku mengangkat kepalaku ke atas. Tiba-tiba ada kumpulan awan menaungiku. Di sana terdapat Malaikat Jibril. Ia memangilku, “Muhammad, Allah telah mendengar perkataan kaummu yang telah memperolokanmu. Mereka tidak mau menjawab panggilanmu. Sungguh Dia telah mengutus kepadamu Malaikat penjaga gunung untuk melaksanakan apa saja yang engkau kehendaki menimpa mereka.”

Kemudian Malaikat penjaga gunung tersebut memanggilku. Ia mengucapkan salam kepadaku, lalu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu yang merendahkanmu. Aku Malaikat penjaga gunung. Wahai Muhammad, aku diutus oleh Tuhanmu untuk menuruti apa saja yang engkau kehendaki. Jika engkau mau, aku akan menjadikan mereka rata ditimpa gunung.”

Saat itu, aku (Nabi saw) menjawab, “Bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Dia dengan yang lain-Nya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Saya berjalan bersama Rasulullah SAW. Saat itu beliau memakai mantel buatan tanah Najran yang ujung-ujungnya tebal. Di tengah jalan, ada orang Arab baduwi (dari pedesaan). Ia langsung menarik selendang beliau dengan sangat keras, sehingga saya melihat ujung mantel itu membekas di pundak Rasulullah karena kerasnya tarikan tersebut. Setelah itu, si badwi itu berkata, “Hai Muhammad, instruksikan agar aku mendapat jatah dari Baitul Mal yang ada padamu!”

Maka Rasulullah pun menengok ke belakang, kemudian tersenyum. Beliau dengan ramah menyuruh agar si baduwi itu mendapat bagian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikian akhlak beliau yang sangat tinggi. Pantaslah jika beliau dipuji oleh Allah Ta’la, sebagai pemilik akhlak yang agung. Kesabaran beliau tidak ada batasnya, kemurahan beliau tidak ada bandingannya, dan perhatian beliau terhadap umatnya tiada terkira.

Tentang yasir maqosid

Dilahirkan di Kota Pekalongan. Mengenyam pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir, selanjutnya meneruskan sampai jenjang Magister di IAIN Pekalogan. Aktifitas mengajar di STAIN Pekalongan, Majlis Ta'lim At-Tafaqquh dan Program TV Batik dalam acara "Rohani Islam"
Pos ini dipublikasikan di Artikel Dakwah, Kepribadian Rasulullah, Sirah Nabawiyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s